kumpulan hadits

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu, ia berkata.

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda,”Ini adalah jalan Allah,” kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda,”Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,” kemudian beliau membaca.

إِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. [Al An’am:153]. [ Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad I/435, dan yang lainnya].

===========
لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ 

Sesungguhnya, aku telah meninggalkan kalian di atas jalan, seperti jalan yang sangat putih, malamnya sama dengan siangnya. Tiada yang menyimpang sesudahku dari jalan itu, kecuali orang (itu) akan binasa. [Riwayat Ahmad 4/126; Ibnu Majah, no. 5 dan 43; Ibnu Abi Ashim dalam kitabnya As Sunnah, no. 48-49; Al Hakim 1/96; dan dishahihkan oleh Al Albani dalam kitab Fi Dhalalil Jannah Fi Takhrij Sunnah.]
=========



Rujukan :
Ini

=======
Kata adl-dliya' dan an-nuur juga ada disebutkan secara bersamaan dalam sebuah hadits. An-nuur mengiringi kata sholat dan adl-dhiya mengiringi kata sabar dalam kitab Shahih Muslim No: 328 sbb: 

حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ حَدَّثَنَا أَبَانُ حَدَّثَنَا يَحْيَى أَنَّ زَيْدًا حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا سَلَّامٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ 
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا 

Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Manshur] telah menceritakan kepada kami [Habban bin Hilal] telah menceritakan kepada kami [Aban] telah menceritakan kepada kami [Yahya] bahwa [Zaid] telah menceritakan kepadanya, bahwa [Abu Sallam] telah menceritakan kepadanya dari [Abu Malik al-Asy'ari] dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bersuci adalah setengah dari iman, alhamdulillah memenuhi timbangan, subhanallah dan alhamdulillah keduanya memenuhi, atau salah satunya memenuhi apa yang ada antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah petunjuk, kesabaran adalah sinar, dan al-Qur'an adalah hujjah untuk amal kebaikanmu dan hujjah atas amal kejelekanmu. Setiap manusia adalah berusaha, maka ada orang yang menjual dirinya sehingga membebaskannya atau menghancurkannya." 

Rujukan :
Yahoo Answers

========
Rasulullah Saw bersabda,”Tidak ada shalat melainkan dengan hati yang hadir di hadapan Allah.” (H.R Muttafaq alaih). Jika hati hadir saat menyembah Allah Swt (shalat) maka shalat akan rusak sebab zahir melaksanakan shalat sementara hati dan pikirannya lari dari ingat kepada Allah Swt.

rujukan

=======

Nabi shallallahu ‘alahi wa as-salam bersabda :
إنّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ.
“Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal-amal manusia adalah shalat.” Beliau melanjutkan,” -Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat –Nya- dan Dia lebih mengetahui-, Lihatlah shalat hambaKu, apakah ia mnyempurnakannya ataukah kurang? Jika shalatnya sempurna maka dicatat sempurna untuknya dan jika kurang sesuatu darinya, maka Dia berfirman : Lihatlah apakah hambaku memiliki shalat sunnah ? Jika ia memiliki shalat sunnah maka Dia berfirman, “Sempurnakanlah shalat fardhu hambaKu dengan shalat sunnahnya. Kemudian amalan-amalan lainnya diperlakukan demikian.” (Hadist Shahih Riwayat Ahmad, Abu Dawud,at-Tirmidzi, an-Nas’ai dan Ibnu Majah)”

hadist Anas ra, bahwasanya beliau berkata :

كان قرام لعائشة سترت به جانبه بيتها فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أميطي عنا قرامك هذا فإنه لا تزال تعرض لي فى صلاتي.
Bahwa Aisyah ra mempunyai tabir ( kain yang bergambar ) yang digunakan untuk menutupi sebagian rumahnya, kemudian Rasulullah saw bersabda, "Jauhkanlah kainmu yang bergambar tersebut dari kami, karena sesungguhnya gambar-gambarnya senantiasa menggangguku dalam shalat." (HR. Bukhari).


Larangan menggunakan pakaian yang bergambar waktu sholat terdapat dalam hadist Aisyah ra :
أن النبي صلى الله عبيه وسلم صلى فى خميصة لها أعلام فنظر إلى أعلامها نظرة فلما انصرف قال:اذهبوا بخميصتي هذه إلى أبي جهم وائتونى بأنبجانية أبي جهم فإنها ألهتني انفا عن صلاتي.
"Bahwasanya Nabi Muhammad saw shalat menggunakan gamis (baju) yang bergambar, maka beliau melihat kepada bercak tersebut. Maka ketika selesai melaksanakan shalat, beliau berkata, "Kembalikan bajuku ini kepada Abu Jahm dan datangkan kepadaku baju yang tidak bergambar dari Abu Jahm, karena sesungguhnya gamis yang bergambar tersebut telah mengganggu shalatku." (HR. Bukhari).
Hal ini dikuatkan dengan hadist Anas ra :

كان قرام لعائشة سترت به جانبه بيتها فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أميطي عنا قرامك هذا فإنه لا تزال تعرض لي فى صلاتي.
Bahwa Aisyah ra mempunyai tabir ( kain yang bergambar ) yang digunakan untuk menutupi sebagian rumahnya, kemudian Rasulullah saw bersabda, "Jauhkanlah kainmu yang bergambar tersebut dari kami, karena sesungguhnya gambar-gambarnya senantiasa menggangguku dalam shalat." (HR. Bukhari).



masih banyak hadits penting disini
=========

Kedudukan An-Nafs dan Perjuangannya


Sifat, Nama Tahapan, dan Kedudukan Nafs dalam Perjuangan dan Peningkatannya


Sebuah terjemahan dari teks klasik oleh Mahmoud Mostafa, yang membahas sifat, nama tahapan dan kedudukan nafs dalam perjuangan dan peningkatannya. Dalam al-Quran disebutkan secara umum lima tingkatan jiwa manusia. Oleh kaum arif, diperinci menjadi tujuh tahapan, bahwa nafs bisa saja naik sampai pada kedudukan yang paling indah; atau ia bisa turun sampai pada kedudukan yang terendah dari yang rendah.
Sebelumnya telah jelas bagi kita bahwa ada tiga musuh utama dan penyebab kerusakan dan kesesatan manusia.

 Pertama, hasrat ego (hawa an-nafs). Juga dikenal sebagai nafsu tersembunyi. Ini adalah musuh nomor satu dan yang paling berbahaya, karena jika ia ada, maka kedua musuh yang lainnya akan ada, dan tanpanya, maka musuh dari dalam nafs tak akan ada pula. Musuh ini berada jauh di dalam hakikat umat manusia, yakni di dalam nafs-nya, di sebelah kiri, dan bersifat mendorong kepada pelanggaran (fujur). Ia adalah lawan dari sisi kanan jiwa yang bersifat mendorong kepada kesadaran (taqwa).
Pelanggaran jiwa terjadi di dalam hasratnya dan hasratnya itu berarti nafsunya kepada kebanggaan diri (aku!) dan kebebasan (kekuasaan dan kedengkian tanpa batas). Musuh ini adalah penyebab utama penzaliman diri sendiri pada manusia. Penzaliman ini menuntun kepada penolakan dan politeisme, atau kepada kesesatan, keingkaran, dan dosa-dosa. Tidak ada obat bagi kedua hasrat ini kecuali melalui mengingatkan nafs secara terus-menerus tentang hidupnya yang sementara dan tentang kematian yang pasti datang. “Sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan kepada keburukan kecuali bagi mereka yang telah diberi pengampunan oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf [12]: 53)

Kedua, hasrat akan hiasan dunia (syahwat ad-dunya). Ini adalah musuh yang kedua, namun ia ada di luar hakikat umat manusia. Ia adalah senjata Iblis yang dimainkannya di depan mata yang penuh birahi dari hasrat ego. Jadi ia membuatnya seperti cermin yang menarik perhatian nafs dan menggodanya, sehingga ia berbelok dan bergerak menuju kesenangan pribadi dan keterikatan pada hasrat dan kecintaannya pada dunia material, yang mendorongnya hingga terjatuh ke dalam kepalsuan duniawi dan lautan kebinasaan.

Satu-satunya obat bagi hasrat ini adalah bersikap sadar dan tegas terhadap sifat sementara dari dunia ini, dan kesadaran akan perlunya manusia untuk melepaskan diri dari keterikatan kepadanya. Yaitu dengan mengetahui bahwa dunia hanyalah rumah sementara dan tempat ujian dan cobaan. Yaitu dengan memahami bahwa dunia ini adalah bagian dari sebuah rangkaian keabadian; sebelumnya ia merupakan rumah bagi atom (dar az-zhar) dan sesudahnya, akan muncul tahap lain, yakni alam isthmus (alam al-barzakh). Hasrat kepada dunia ada lima, sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran, “Kecintaan pada hasrat telah dibuat menjadi indah bagi manusia: yaitu kepada perempuan-perempuan, keturunan, emas dan perak, kuda-kuda yang gagah, ternak, dan pertanian.” (QS. Ali Imran [3]: 14)

Ketiga, setan adalah musuh yang ketiga (syaitan ar-rajim). Dia juga berada di luar hakikat manusia. Perannya adalah untuk menggoda, menyesatkan, dan mempercantik segala yang salah dan terlarang dan keji di dunia ini agar membuat nafs menjadi terikat pada semua itu melalui hasratnya. Ia tak punya maksud selain merayu dan menggoda ego, dan tak punya senjata selain menghidupkan dan menyetir kedua hasrat ego, yaitu “keakuan” dan “kekuasaan” sehingga manusia akan merasa bangga dengan dirinya sendiri, dan pada gilirannya memperjauh kesesatannya. Dengan cara ini, setan menuntun manusia untuk mengarah pada kekafiran dan politeisme, atau keingkaran dan dosa-dosa. Tiada obat atau pun pencegahan untuk hal ini kecuali dengan terus-menerus mengingat dan mencari pertolongan Allah, dan menyandarkan kepercayaan kepada-Nya. “Sesungguhnya setan adalah musuhmu, maka jadikanlah ia musuhmu.” (QS. Fathir [35]: 6)
Naik atau turunnya nafs tergantung pada derajat pengobatan dan perlindungan dari ketiga musuh ini. Jadi, nafs bisa saja naik sampai pada kedudukan “…kedudukan yang paling indah.” Atau ia bisa turun sampai pada kedudukan “…yang terendah dari yang rendah.”
Al-Quran menyebutkan lima tingkatan jiwa manusia. Tahap dasar adalah yang ada bersama kelahiran kita, yang disebut dengan jiwa yang penuh celaan (nafs al-lawwamah). Jika diabaikan dan dibiarkan dengan dorongan dan hasratnya, maka ia akan naik kepada jiwa yang penuh perintah (nafs al-ammarah). Dan jika ia berkembang dan dipelihara melalui usaha dan pertahanan diri melawan hasrat-hasratnya, maka insya Allah, ia akan naik ke tingkatan tertinggi, yakni kedekatan, kebahagiaan, dan kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya saw. Tingkat yang lebih tinggi ini ada tiga, yang tepat di atas jiwa yang penuh celaan tadi adalah jiwa yang tenteram (nafs al-muthmainah), diikuti oleh jiwa yang puas (nafs ar-radhiyyah), dan akhirnya pada jiwa yang diridhai (nafs al-mardhiyyah), dan inilah yang dimaksud dengan jiwa yang meraih tempat dan kedudukan asalnya, yang merupakan “…kedudukan yang paling indah.”

Para arif (arifin) telah merinci dan memaparkan masalah ini dan mempermudah umat Islam untuk memahaminya, dan mempraktikkannya, agar tindakan pencegahan dan pengobatan menjadi mudah. Mereka menjabarkan tujuh tingkat dari lima cakupan yang disebutkan dalam al-Quran:

1. Jiwa yang penuh perintah (nafs al-ammarah)

Zikir yang tepat untuk menanganinya adalah La Ilâha illallah (Tiada tuhan selain Allah). Ia adalah tingkatan jiwa yang paling rendah dan yang paling buruk. Di dalamnya ditemukan hasrat dan nafsu yang ekstrim akan kebanggaan diri dan kekuasaan. Jadi, ia terikat pada karakteristik yang paling buruk, yang oleh Allah dan Nabi-Nya saw, kita diperingatkan untuk mewaspadainya. Misalnya, kekaguman pada diri sendiri, arogansi dan kesombongan, kekerasan hati, kesenangan membeberkan kesalahan orang lain, berbohong, gosip, main belakang, iri, dengki, senang mengkritik, memuji diri dengan pujian tak pantas, tidak ramah, selalu menginginkan apa yang dimiliki orang lain bahkan walau yang dimilikinya lebih baik, selalu kurang puas, kurang bersyukur, buta terhadap karunia yang diterima, berharap maju tanpa usaha, egois berlebihan, ketamakan dan keserakahan yang tak berbatas, senang menguasai, cinta pada diri dan hasrat-hasratnya, kebencian pada yang mengkritik walaupun itu demi kebaikannya sendiri, dan cinta pada yang memuji walaupun mereka itu munafik, menolak nasihat dan bimbingan, dan hanya peduli pada dirinya sendiri. 

Jiwa yang penuh perintah ini secara umum dibagi menjadi dua tingkat: Pertama, jiwa binatang (nafs al-hayawaniyyah); ia adalah jiwa yang mengejar hasrat-hasrat sensual dan kepemilikan materi tanpa peduli itu benar atau salah, adil atau zalim, halal atau haram. Ia tenggelam dalam kesenangan kepemilikan, seks, dan perhiasan. Ia penuh dengan nafsu, kejahatan, dan tidak manusiawi. Ia membenci agama, dan mencintai dirinya sendiri dengan penuh keegoisan. Ia tidak tahu apa itu puas, malu, rasa syukur, rasa hormat, dan tak pula punya sikap yang baik.
Kedua, jiwa setan (nafs al-iblisiyyah); ia bahkan lebih rendah dari jiwa binatang, karena kecintaannya pada dirinya sendiri telah mencapai tahap di mana ia menantang Allah untuk bersaing dalam ketuhanan dan kekuasaan-Nya. “Aku adalah tuhan kamu sekalian….” Kata Firaun, dan kata Iblis, “Aku lebih baik dari dia (Adam)…”
Jiwa yang penuh perintah ini ada pada hati yang berpenyakit. Jika hati itu tak disembuhkan, maka nafs ini akan melanjutkan perjalanannya sampai hati yang terbutakan dan akhirnya terkunci. Akar dari jiwa ini adalah, ia yakin bahwa dirinya itu sempurna, dan bahwa yang lainnya rusak, dan bahwa semua orang lain akan mati sedangkan dirinya tetap abadi. Ia dinamakan dengan istilah itu karena begitu banyaknya permintaan dan ajakan yang harus segera dipenuhi untuk memuaskan hasratnya. Jadi, ia menginginkan sesuatu, dan sebelum itu terpenuhi, ia akan meminta sesuatu yang lain, demikian terus-menerus. Manusia pada tahap ini adalah kawan dan dicintai setan, dan musuh Allah Yang Maha Pengasih. “Kecuali pada mereka yang Allah tunjukkan kasih-sayang.”

2. Jiwa yang penuh celaan (nafs al-lawwamah)

Zikir penyembuhnya adalah Allah (Tuhan). Ia adalah jiwa yang ada bersamaan dengan lahirnya seorang manusia ke dunia, sebagaimana firman Allah, “Demi Dia Yang membawa jiwa kepada keseimbangan, yang mengilhamkan kepadanya dengan penyimpangan dan ketakwaannya.” (QS. Syams [91]: 7-8)
Ini adalah jiwa yang telah disentuh oleh kasih-sayang Allah, sehingga ketika ia melakukan dosa atau terjatuh dalam kemungkaran, maka ia akan mencela dirinya sendiri dan kembali memohon ampunan dan bertobat kepada Penciptanya. Lalu ia akan terus taat sampai ia tergelincir kembali ke dalam dosa, lalu ia kembali mohon ampun dan bertobat, dan seterusnya. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan Baginda Nabi saw, “Semua manusia itu cenderung untuk berbuat dosa, dan pendosa yang terbaik adalah yang bertobat.” Ia adalah jiwa yang terus-menerus berada dalam fluktuasi antara ketaatan dan kemungkaran. Di satu waktu ia tak peduli dan terjatuh, di waktu lain ia sadar dan bertahan.
Ini adalah kedudukan awal di mana kita mulai melangkah sejak lahir, dan dari sana kita turun atau naik. Ciri-cirinya adalah terjadinya fluktuasi antara karakteristik antara penghuni dunia ini dan penghuni alam setelah dunia ini. Kondisinya tidak sama jahatnya dengan jiwa yang penuh perintah, tetapi hasratnya akan kebanggaan diri dan kekuasaan masih aktif di dalamnya, walaupun takarannya sudah sangat ditekan atau dilemahkan. Ini adalah tahap pertama untuk mencapai keselamatan bagi jiwa, dan langkah pertama untuk menuju penyucian jiwa dan keberhasilannya.

3. Jiwa yang terilhami (nafs al-mulhamah)

Zikirnya adalah Hu (kata ganti Tuhan, DIA). Ia adalah jiwa yang telah naik melalui perjuangan dan komitmen terhadap jalannya yang sejati, dari tingkat jiwa yang penuh celaan menuju jiwa yang secara terus-menerus memohon pengampunan dan bertobat, baik ia berbuat dosa atau pun tidak. Ini disebabkan oleh keyakinannya bahwa akar dari sifat-sifatnya adalah ketidaksempurnaan, kesalahan, kelemahan, dan ketidaklengkapan.
Pada tingkatan ini, jiwa terilhami dengan kecintaan tahap awal kepada perbuatan baik (amal saleh), dan kepada al-Quran, dan ajaran Nabi saw. Ia juga terilhami oleh kecintaan kepada zikir, dan untuk memohon pengampunan (istigfar), dan untuk meluruskan niatnya (niyyah), dan untuk memperbarui tobatnya (tawbah).
Ini adalah tahap terakhir bahaya bagi jiwa, karena ia masih tak terjaga dari kemungkinan turun kepada tingkatan yang lebih rendah, yaitu nafsu lawwamah dan nafsu ammarah. Pada tingkat ini, hasrat akan kebanggaan diri dan kekuasaan telah tidur, kecuali terlintasnya kedua hasrat itu dalam pikiran.

4. Jiwa yang tenteram (nafs al-muthmainnah)

Zikirnya adalah Haqq (Kebenaran). Ia adalah jiwa yang telah naik kepada tingkatan tahap yang pertama, dan meniti tangga menuju kedekatan, kebahagiaan, dan kecintaan pada Allah. Penyuciannya ini diperoleh melalui meningkatkan komitmen, dan ia memenuhi kewajibannya dengan penuh ketulusan dan kejujuran, dengan berpegang pada jalan yang hakiki dalam semua aspeknya, khususnya dalam hubungannya dengan sesama manusia dan dalam budi pekertinya, sebelum ibadah-ibadah ritual. Nabi saw bersabda, “Jalan (agama) itu ada pada budi pekerti,” dan “Yang paling baik budi pekertinya di antara kalian adalah yang terbaik keimanannya.”

Jiwa yang tenteram ini telah memasuki jalan, metode, dan sarana perlindungan dan pengobatan melalui menghitung kesalahan diri, bertahan dari godaan, berjuang, dan dengan kesetiaan. Semua upaya ini membuahkan hasil berupa keyakinan atas kebenaran bahwa hanya Allah sajalah Yang berkuasa. Dia adalah Penyebab dan Penggerak segala sesuatu, karena tiada tuhan selain Dia dan tiada penguasa selain Dia. Dan dalam segala tindakan-Nya, Allah adalah Pengasih dan Pemurah. Dia mengetahui yang paling bermanfaat bagi jiwa ini. Keyakinan ini mengarahkan jiwa pada kepercayaan pada Allah. Ia mengarahkannya pada sifat Pengasih dan Pemurah-Nya. Jiwa ini menjadi yakin bahwa yang bersama dengan Allah adalah lebih baik dan lebih bertahan daripada segala sesuatu yang menjadi miliknya atau yang dimiliki oleh orang lain. Dengan begitu, ia mencapai keyakinan yang lengkap kepada Tuhannya; Dia Yang mengetahui apa yang terbaik baginya, dan Dia adalah Rabb Yang Terbaik, dan Penjaga (wakil) Yang Terbaik. Jadi, jiwa akan menjadi tenteram dan berhenti menimbuni dirinya dengan segala sesuatu selain apa yang telah berhasil diyakininya, yaitu Tuhannya, Allah.
Pada posisi ini, jiwa memperluas kapasitasnya di luar upaya dan kesungguhannya dalam bertobat. Ketika ia merasa tenteram bersama Allah, pada dirinya ia memberikan posisi tambahan seperti harapan (raja) dan ketakutan (khawf) dan kepercayaan kepada-Nya (tawakkal). Pada tingkatan ini, jiwa yang tenteram senantiasa berzikir kepada Allah baik di lidah maupun di hatinya. “Bukankah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram?” (QS. Rad [13]: 28)

Ini adalah tahap pertama bagi sempurnanya (kamal) jiwa. Hati mulai bersinar dengan cahaya kesadaran. Kekuatan ego mulai menyusut, sehingga kesucian, keindahan, kejelasan, dan cahaya mendominasi hati, sehingga ia menjadi jiwa yang tenteram. Pada tingkatan ini, hasrat-hasrat kebanggaan diri dan kekuasaan jadi sepenuhnya terhalangi, dan keduanya kembali kepada pemiliknya yang sejati, yakni Allah. Kini jiwa mulai menunjukkan sifat-sifat sejatinya yang sebelumnya tersembunyi, yang berupa sifat-sifat kehambaan (ubudiyyah), tak berdaya (‘ajz), kehinaan (zhull), kemiskinan (faqr), membutuhkan (ihtiyaj), dan kefanaan (fana).

5. Jiwa yang ridho (nafs ar-radhiyyah)

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa ridho…” (QS. al-Fajar [89]: 28)
Zikirnya adalah Hayy (Hidup). Ketika jiwa yang tenteram naik kepada Tuhannya, cahaya hatinya semakin terang dan memenuhi keseluruhan tubuh, mengubah hasrat-hasrat sensual ego menjadi hasrat yang telah diajarkan oleh Nabi saw dari dalam al-Quran dan sunah. Kini hasratnya sepenuhnya hanya untuk hal-hal seperti itu dan secara mutlak puas bersama Tuhannya. Kini kesulitan dan kemudahan menjadi sama baginya, sebagaimana kerugian dan keberuntungan, dan memberi atau menerima, karena setelah menjadi tenteram, ia yakin bahwa semua tindakan dan perbuatan itu sebenarnya berasal hanya dari Allah. Dia adalah Tuan, Penguasa, dan Penciptanya. Dia adalah Yang memberinya pengampunan dan kasih-sayang. Dia adalah Yang Lembut dan Pemurah kepadanya. Segala sesuatu yang berasal dari yang dicintainya pasti diterima olehnya, dan ia puas bersamanya. Ia puas dengan apa pun yang diperintahkan Allah untuk dilakukannya.

Pada tahap ini, watak jiwa ini adalah: jika diuji ia bersabar, jika diberi ia bersyukur, jika dijauhkan dari keuntungan ia menerima, jika ada perbuatan salah kepadanya ia memaafkan. Kini ia menjadi jiwa dengan hati yang tenang dan indah. Ia berjalan di semua kedudukannya, antara kepercayaan (tawwakal) dan merasa jauh (tafwid), kepuasan (ridha), dan menyerah (taslim) kepada Allah. Sifat dari jiwa ini adalah selalu ceria, penuh syukur, dan rasa terima-kasih tak peduli apa pun yang terjadi. Ini adalah tingkatan kedua dari jiwa yang sempurna (nafs al-kamilah), yang merupakan tahap penghambaan. Dengan naik kepada tingkat ini, jiwa yang puas telah memasuki tingkat pertama dari “…kedudukan yang paling indah.” Tingkatan ini terhubung dengan tingkatan di atasnya.

6. Jiwa yang diridai (nafs al-mardiyyah)

“Kembalilah pada Tuhanmu dengan rasa puas dan diridai-Nya” (QS. al-Fajar [89]: 28)
Zikirnya adalah Qayyum (Yang Hidup dengan Sendirinya) pada tahapan ini jiwa bukan hanya puas dengan Tuhannya tapi juga diridai-Nya. “Allah rida dengan mereka dan mereka rida dengan-Nya.” (QS. Bayyinah [98]: 8)
Rasulullah saw ditanya, “Kapankah kami akan mencapai rida Allah?” Dia menjawab, “Ketika kalian rida dengan Tuhan kalian.”
Pada tahap ini, cahaya hati telah disempurnakan. Hati bertolak dari hati yang tenang (qalb salim) menuju hati yang secara total merasa takut (khasyiyah) kepada Allah, secara terus-menerus cenderung (munib) kepada-Nya, dihiasi dengan kesahajaan (haya’) di hadapan-Nya setiap saat.
“Barangsiapa yang takut kepada Allah secara diam-diam dan datang kepada-Nya dengan hati yang bertobat. Masuklah surga dengan damai. Itu adalah hari yang kekal. Di dalamnya mereka akan peroleh apa pun yang mereka kehendaki, dan bersama Kami ada kelebihannya.” (QS. Qaf [50]: 33-35)
Orang-orang pada tahap ini adalah mereka yang menyaksikan manifestasi-manifestasi berbagai tindakan dari nama-nama Allah (musyahadat tajalliyyat afa’al Allah). 

Manifestasi kekuasaan Allah yang telah mereka saksikan dalam hati telah membuat mereka merasa takut di hadapan Kebesaran dan Kekuasaan Allah dalam segala tindakan-Nya, yang pada hakikatnya adalah manifestasi dari nama-nama-Nya. Orang pada tingkatan ini juga dikaruniai penyingkapan dan mukjizat-mukjizat untuk membuat mereka bisa mengajak manusia menuju cinta Allah. Pada hakikatnya mukjizat ini ditujukan bagi mereka yang menyangkal dan menolak kebenaran, namun pada saat yang sama menyeru kepada Allah. Kepada mereka Allah mengirimkan mukjizat melalui orang pada tingkatan ini, sehingga ego mereka akan tunduk kepada mukjizat-mukjizat tersebut, dan mereka akan kembali ke jalan Allah. Karena ketika Allah mencintai salah seorang hamba-Nya, maka Dia akan mencarinya dan memanggilnya kepada-Nya. Jika dipanggil satu kali hamba itu memberi respon, maka ia akan dibawa mendekati Allah. Allah mencari hamba-Nya itu melalui cobaan-cobaan, atau melalui mukjizat. Karena perintah Allah itu harus menjadi kenyataan dan sepenuhnya wajib terlaksana.
Tingkatan ini adalah tingkatan iman yang terakhir, dan melaluinya jiwa memasuki tingkatan “….kedudukan yang paling indah” (ihsan), yang merupakan tujuan dan hasrat bagi seluruh hamba.

7. Jiwa yang sempurna (nafs al-kamilah)

Juga dikenal dengan istilah jiwa cahaya (nafs al-nuraniyyah), jiwa Muhammadan (nafs al-Muhammadiyyah), dan jiwa yang mencinta (nafs al-muhibbah).
“Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan yang mencintai-Nya; mereka akan rendah hati kepada orang-orang beriman dan tegas terhadap yang ingkar. Mereka akan berjuang di jalan Allah dan tidak akan takut celaan dari orang-orang yang mencela. Itu adalah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa pun di antara hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Allah Mahaluas (karunia-Nya) dan Maha Mengetahui.” (QS. al-Maidah [5]: 54)
“Maka ikutilah aku dan Allah, dan Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosamu. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31)
Zikir lahiriahnya adalah Qahhar (Yang Memaksa) dan zikir batiniahnya adalah Wadud (Yang Mencintai). Ini adalah tingkatan kesempurnaan penghambaan terhadap Allah, melalui kesempurnaan mengikuti ajaran-ajaran manusia yang dicintai-Nya, Muhammad saw. Orang yang mencapai tingkatan ini dikaruniai dengan pengetahuan tentang cinta Allah yang sempurna baginya dan bagi Nabi-Nya saw.

Ini adalah tingkatan keindahan (Maqam al-Ihsan) dan ia di atas semua tingkatan iman yang sebelumnya. Pada tahap ini seorang hamba telah sepenuhnya mencapai tingkatan “…kedudukan yang paling indah.” Dan karenanya, ia memasuki cahaya manusia yang dicintai-Nya, yang terpilih, pada jarak "Two bow's lengths or nearer," dari langkah-langkah kekasih-Nya, Muhammad saw. Ini adalah tahap terakhir dalam tingkatan-tingkatan jiwa. Tahap ini tidak memiliki akhir dalam peningkatan dan keindahannya.

 Orang-orang pada tahapan ini, dalam hati mereka tidak terdapat apa pun selain kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya, dan pada mereka yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Pada tahap ini, jiwa yang sempurna menjadi cermin bagi hakikat cahaya kerasulan jiwa Muhammadan, sehingga ia mencapai sifat-sifat kecintaan dan penghambaan yang sempurna. Pada tahap ini jiwa menikmati cahaya-cahaya manifestasi sifat-sifat dan hakikat Allah (tajalliyat ash-shifat wa adz-dzat al-Illahiyyah), sehingga ia bergerak dalam cahaya kebahagiaan dalam semua kedudukan dan tahapannya. Ia adalah jiwa malaikat cahaya yang berada dalam tubuh manusia. Ia tak lagi egois; ia tak memiliki pilihan, dan jika ia diberi pilihan, maka ia akan memilih hanya yang dicintai dan disukai Allah. Jika ditanya, apakah ia merasa memperoleh karunia atau dijauhkan darinya, maka ia tidak akan tahu, karena cinta telah menguasainya dan sehingga, ia telah secara total tidak dikuasai oleh sebab-sebab. Ia terhinakan melalui cinta (hubb), kekaguman (walah), dan hasrat (isyq), menuju cahaya keindahan hakikat Tuhan pemilik sebab-sebab, yang merupakan Kecintaannya dan Pelindungnya. Orang-orang pada tahap ini adalah orang-orang yang menjadi Kecintaan dan Hasrat Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jejak sejati Muhammad saw.

Mereka sibuk dengan kecintaan dan ibadah kepada Kebenaran Sejati, dan tidak tertarik kepada makhluk kecuali untuk memenuhi kewajiban mereka. Dan karena mereka telah menjadi cermin bagi cahaya Muhammadan, dengan kokoh mereka selalu dalam Lingkupan Kenabian. Segala gerak, diam, perkataan, dan perbuatan mereka adalah dari Allah, melalui Allah, dan menuju Allah. Seluruh hati mereka mengikuti Manusia Terkasih dan Terpilih, Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, karena mereka telah mengetahui melalui Allah bahwa dia (Nabi) adalah kekasih pertama, cahaya yang pertama yang bersujud, menyembah, dan menghamba kepada-Nya. Barangsiapa dari para pecinta yang mematuhi, mencintai, dan meneladaninya dalam sifat, perbuatan, dan ibadahnya, akan memperoleh kecintaan Allah.

Orang-orang seperti ini adalah hamba-hamba yang telah dibawa mendekat (muqarrabun) dan telah dipilih, dan telah mencapai kepastian bahwa kewajiban mereka yang pertama setelah penghambaan adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ini dilakukan dengan tetap mematuhi hukum dan menjunjung tinggi agamanya. Mereka adalah para pemuka dalam pengetahuan agama dan mereka merupakan cahaya kearifan di dalam Kebenaran. Melalui cahaya di dalam hati mereka, manusia lain yang ada di sekitar mereka menjadi tersinari, dan berkat zikir-zikir merekalah, pengampunan diturunkan. Mereka telah memiliki segala yang mereka inginkan, dan mereka hanya menghendaki kecintaan Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak mencari dunia ini, tak pula mereka dikuasai oleh dunia yang selanjutnya. Segala perhatian mereka adalah untuk mencapai kedekatan dengan Allah, untuk mendengar dari-Nya, selalu berdekatan dengan-Nya, karena mereka menganggap bahwa sedetik saja perpisahan dari-Nya adalah siksaan yang lebih pedih daripada neraka. “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan itu berada di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat kebenaran, dalam kehadiran Tuhan Yang Mahakuasa” (QS. al-Qamar [54]: 55).

PANDUAN HIDUP BAHAGIA



PENDAHULUAN
Buku ini, isinya bukan merupakan pedoman atau patokan mati. Artinya, siapapun yang berminat, mencapai kebahagiaan hidup sejati di dunia ini, dan ingin kalau saatnya tiba, bisa mencapai “Kasampurnan Jati”, lakunya tidak harus, bahkan tidak benar, kalau berpedoman atau berpatokan pada isi buku ini (dijadikan semacam patokan, apalagi dogma).

Buku ini isinya hanya memberikan petunjuk, bagaimana seseorang bisa berguru pada Guru Sejati-nya sendiri, yaitu Hidupnya sendiri, atau Rokh-nya sendiri (His or Her own Soul).

Yang harus diikuti oleh tiap orang adalah petunjuk yang paling baik dari Hidup-nya sendiri.

Hidup yang bisa memberikan petunjuk yang paling baik (beciking becik) dan paling benar (benering bener) bagi tiap orang, secara individual (pribadi). Karena Hidup itu yang berasal dari Maha Hidup, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Hidup yang meliputi, menggerakkan dan menguasai alam semesta seisinya - Urip kang ngalimpudhi, ngobahake lan nguwasani jagad royo saisine). Dan hanya Hidup, yang nantinya kembali (seharusnya) kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hidup yang tahu, apa dan bagaimana Raganya (manusianya) setiap saat harus berbuat, selama masih di dunia, agar senantiasa dalam keadaan Bahagia Sejati.

Bahagia Sejati itu adalah dalam Rasa yang kita alami, yang berubah-ubah.

Kalau kita menjalani kehidupan dan penghidupan di dunia ini mengikuti jalannya Hidup, maka kita akan menjalani kehidupan dan penghidupan kita dengan diliputi selalu Rasa Bahagia yang sejati.

Selain itu, “perjalanan hidup” kita, tidak akan menyimpang dari lingkaran Hidup itu sendiri (the life cycle). Artinya, kita tidak membawa Sang Hidup untuk menyimpang dari “perjalanan “ yang seharusnya ditempuh, yaitu dari Tuhan, lalu berada di dunia dengan raganya, kemudian lepas dari raganya, dan langsung bisa kembali ke asalnya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Tanpa harus menunggu jutaan tahun.

Tidak sedikit, manusia yang hidup sekarang ini, dijaman yang dikatakan maju, modern, sekalipun terpenuhi segala kebutuhan materiilnya, bahkan kebutuhan emosionalnya, tetapi kehilangan Rasa Bahagianya yang sejati. Paling paling hanya akan merasakan senang sebentar, lalu hilang dan berusaha senang lagi, dan seterusnya.

Tidak sedikit, keluarga keluarga yang sudah kehilangan keharmonisan, keserasian, kebahagiaan dalam berkeluarga. Sesuatu yang didambakan setiap orang saat ingin membangun suatu keluarga.

Semua itu, karena manusia melupakan, bahwa dalam dirinya ada Hidup (Rokh, Soul)-nya. Tanpa Hidup, segala yang ada tidak berarti dan tidak punya nilai lagi.
Sekalipun Manusia merasa, masih ingin, dan bahkan berusaha melakukan hubungan dengan Tuhannya, tetapi dalam segala tindakannya, terlepas lagi dari hubungan itu. Semua tindakannya, didasarkan hanya atas dasar akal-pikirannya sendiri, atas dasar apa yang dianggapnya baik dan benar. Tidak mau tahu, apa yang sebenarnya baik dan benar bagi dirinya menurut Tuhan.

Dengan menjalani laku Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwo Mijil, manusia akan selalu diberi petunjuk, diberi tahu, apa yang baik dan benar untuk dilakukan dirinya, setiap saat. Yang memberi tahu, Hidupnya sendiri, karena Hiduplah yang, bisa menangkap kehendak Tuhan setiap saat.

Buku ini, isinya adalah gambaran tentang bagaimana menjalani laku Kasampurnan itu. Bukan untuk pedoman, bahkan bukan untuk dipercaya.

Kalau seseorang sudah menjalani, dia akan mendapatkan pengalaman dan bukti bukti sendiri. Jadi, kalau percaya, adalah karena mengalami, membuktikan dan merasakan sendiri.

Buku ini disusun, atas dasar seringnya Penulis “ngangsu” (menimba) dari sumbernya, yaitu Romo Herucokro Semono. Rata rata hampir sekali setiap seminggu, selama bertahun-tahun, selalu “sowan” (menghadap) untuk menimba “pangerten” (pengertian) tentang Laku Kasampurnan ini. Tentu saja ditambah pengalaman menghayati dan mengamalkan laku ini puluhan tahun dan pengalaman dalam mengamati dan momong ribuan orang yang sama sama menghayati laku ini (disebut “kadhang”).

Jadi, kalau ada “kadhang” yang berpendapat lain, tentu saja wajar, dan itu merupakan hak-nya. Lebih lebih, kalau yang dikemukakan adalah pengalaman pribadinya. Maka Penulis berusaha, menulis buku ini secara umum, tanpa memasukkan pengalaman yang bersifat terlalu pribadi.

Demikian pula, “dawuh” dan “wulang wuruk” (“ajaran”) dari Romo Herucokro Semono yang disampaikan di sini, yang bersifat umum. Bukan dawuh yang bersifat untuk pribadi Penulis.

Sekalipun demikian, penulis tetap menyadari, bahwa Laku ini, kalau ditulis semuanya, sekalipun lautan berubah jadi tinta, tidak cukup untuk menuliskannya. (“Sanajan banyu kabeh segoro dhadhi mangsi, ora cukup kanggo nulis kabeh dawuh”).

Bayangkan saja, dawuh dawuh Romo Herucokro Semono saja, beliau lakukan selama 25 tahun lebih, pagi, siang, malam dari 1955 s/d 1981. Bagaimana mungkin menuliskan seluruhnya?

Maka, penulis sama sekali tidak minta agar tulisannya ini dipercaya, dibenarkan, apalagi dijadikan pedoman.

Penulis membuat buku ini, karena desakan banyak orang, selama bertahun-tahun. Jadi, memenuhi keinginan orang banyak. Penulis mencoba menggambarkan Laku Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwo Mijil yang sebenarnya itu apa dan bagaimana menjalaninya dengan baik dan benar. Juga murni tanpa dicampur aduk dengan laku atau ilmu lain, karena kepentingan manusianya masing masing.

Bagi yang merasa tidak cocok dengan tulisan ini, tentunya jangan diingat lagi, dan anggap saja tidak pernah membaca buku ini. Bagi yang merasa cocok, silahkan kalau mau digunakan.
Penulis tidak berkeberatan kalau buku ini difoto-copy. Tetapi jangan disalin. Takutnya, kalau salah menyalin.  Di dalamnya mengandung kata kata yang sebenarnya bersifat gaib. Kalau satu suku kata saja berubah, bisa tidak berarti sama sekali.

Penulis berani membuat buku ini, karena ajaran (paringan dan wulang-wuruk) Romo Herucokro Semono ini, telah resmi dipaparkan di depan semua instansi tingkat pusat Pemerintah R.I., para cendekiawan dari berbagai universitas, para tokoh/wakil agama agama, dan telah mendapakan Piagam. Artinya sudah resmi boleh dihayati dan diamalkan di wilayah hukum Republik Indonesia.

Hal itu tentu saja tidak berlaku bagi para penghayat yang di luar Indonesia (Sampai buku ini dibuat, laku ini sudah dihayati dan diamalkan oleh ribuan orang asing, di 19 negara).

Sebelum tahun 1900, seorang isteri “padhemi” (isteri resmi), dibuang dalam arti diberikan kepada seseorang yang dinilai berjasa.

Itu karena desakan seorang “selir” yang sangat dicintai.

Hal demikian, tidak jarang terjadi pada jaman itu.

Isteri “priyagung” itu bernama Dewi Nawangwulan. Kepergiannya, disertai seorang dayang (emban), bernama Rantamsari.

Dewi Nawangwulan, dibuang (“dhikendangake”), dan diberikan kepada Ki Kasandhikromo, yang sering juga disebut Ki Kasan Kesambi, seorang tokoh spiritual pada jamannya, yang berdiam di desa Kalinongko, Gunung Damar, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Saat dibuang, Dewi Nawangwulan dalam keadaan mengandung.

Lahir bayi yang diberi nama Semono, namun ibunya, Dewi Nawangwulan wafat. Tidak lama kemudian disusul Rantamsari, dayangnya juga meninggal dunia.

Keduanya dimakamkan di puncak Gunung Damar Purworejo.

Ki Kasandhikromo, tidak pernah mau menganggap, apalagi memperlakukan Dewi Nawangwulan sebagai isterinya. Tetap dianggap dan dia perlakukan sebagai “ratu” -nya . Demikian pula isterinya, Nyi Kasandhikromo.

Semono dipelihara dan dibesarkan Ki Kasandhikromo. Di sekolahkan Sekolah Ongko Loro (SD yang 5 tahun tamat untuk pribumi). Semono yang lahir tahun 1900, harinya Jumat Pahing. Tidak ada catatan resmi tanggal dan bulannya. Hal biasa pada jaman itu.
Semono, semasa sekolah, setiap hari Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, membolos. Bukan karena malas atau nakal, tetapi karena malu.

Pada saat matahari tepat di atas, saat semua orang tidak ada bayangannya. Semono bayangannya 12. Karena selalu jadi tontonan teman-temannya, jadi malu. Maka lebih baik membolos.

Tamat SD itu, langsung diangkat jadi Guru Bantu.

Suatu hari, pemuda Semono yang saat itu berumur 14 tahun (sudah dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa pada jaman itu), disuruh Nyi Kasan, mengambilkan minyak, di dalam salah satu bilik rumah mereka. Ternyata, di dalam bilik itu, tertidur lelap seorang gadis kemenakan Nyi Kasan. Dalam kelelapan tidurnya, kain yang dipakai tersingkap, jadi tubuhnya kelihatan terbuka.

Pemuda Semono, melihat hal itu, “Mengkorok” (Berdiri bulu bulu di tubuhnya).

Semono lalu merenung. Mempertanyakan, apa sebenarnya yang menggerakkan bulu bulu tubuhnya itu?.

Renungan demi renungan, tidak menemukan jawab.

Akhirnya Semono memutuskan, minta ijin Ki Kasan untuk pergi bertapa.
Semono yang berusia 14 tahun itu, bertapa di tepi laut Selatan, di Cilacap. Bekasnya (petilasannya) masih ada sampai saat buku ini ditulis.
Berupa dua rumpun bambu, di dalam kompleks Pertamina. Pertamina, sekalipun sudah berusaha dengan berbagai cara, tidak bisa membongkar kedua rumpun bambu itu.
Semono bertapa selama 3 tahun (1914 - 1917). Hasilnya mendapat “Cangkok Wijoyo Kusumo”. Berbentuk seperti bunga kering, berwarna coklat kehitaman. Kalau dimasukkan air, akan mengembang sebesar tempatnya.

Semono kecewa, karena bukan itu yang dicari. Beliau mendapat “wangsit” (ilham), untuk melanjutkan laku sampai tahun kembar 5, dan di timur nantinya akan dia temukan apa yang dia cari.

Baju yang dikenakan Semono selama 3 tahun bertapa, hancur. Dengan hanya bercawat dedaunan, Semono pulang dengan cara jalan malam. Jadi siang hari sembunyi dan malam harinya jalan, karena takut akan malu kalau bertemu orang.

Sampai di rumah, bukannya dirayakan, tetapi malah sudah disediakan lubang (“luweng”), lalu pemuda Semono oleh Ki Kasan, ditanam (“dhipendem”), selama 40 hari 40 malam. hanya diberi batang gelagah untuk bernafas. Dan setiap usai menanak nasi, Nyi Kasan mengepulkan asap nasi itu ke dalam lubang gelagah.

Selanjutnya, Semono sambil menjadi Marsose (sekarang marinir), berkelana, tetap menjalani laku. Kalau siang dinas, malamnya berendam di laut, menjala. Tidak pernah dapat ikan. Itu dilakukannya sampai tahun 1955.

Tanggal 13 malem 14 November 1955, kebetulan jatuh malem Senen pahing, pukul 18.05, banyak orang di Perak Surabaya, terkejut, menyaksikan rumah Letnan KKO ( sekarang Letnan Satu Marinir), terbakar. Tetapi setelah didekati , ternyata bukan api, melainkan cahaya. Bahkan ada kereta keemasan (kreto kencono) di langit, yang turun masuk ke rumah Letnan Semono). Di Jalan Perak Barat No. 93 Surabaya.

Peristiwa itulah yang dikenal sebagai mijilnya Romo Herucokro Semono.

Pernyataan beliau saat Mijil, menyatakan bahwa “Ingsun” Mijil, arso nyungsang bawono balik, arso nggelar jagat anyar. “Ingsun” (bukan aku) mijil hendak memutar-balikkan jagad (maksudnya jagat kecil, pribadi manusia, micro cosmos), dan hendak menggelarkan dunia baru (micro cosmos baru).

Artinya, kalau selama ini, kita selalu memperbudak Hidup, selanjutnya terbalik, kita sebagai manusia akan menjadi abdi-nya Sang Hidup.

Mulai saat itu, Romo Herucokro Semono memberikan siapapun yang menghendaki (tidak ada paksaan, tidak menakut-nakuti dengan cara dan jalan apapun), yang ingin Hidup bahagia (Tentrem), agar bisa mencapai “Kasampurnan Jati” (moksha) pada saatnya.

Apa yang beliau berikan, akan bisa diikuti dalam bab bab berikut.
Romo Herucokro Semono, selanjutnya memberikan Laku Kasampurnan ini, sesudah dinas. Berlangsung sampai tahun 1960. Beliau menjalani masa pensiun sebagai Kapten Marinir.

Beliau lalu pulang ke Purworejo dan berdiam di Kalinongko dan Sejiwan, Loano, Purworejo (2 rumah kediaman).

Setiap hari, beliau menerima kedatangan rata rata 500 orang lebih.

Semua orang, pada waktu makan, diberi makan dan yang menginap, dengan bebas mencari tempat untuk tidur, di rumah beliau.

Tentunya berbagai keperluan orang yang datang. Mulai dari meminta pengobatan penyakit yang dokter sudah tidak sanggup mengobati, dengan seketika sembuh, memohon restu untuk sesuatu, dan lain-lain. Tetapi tidak sedikit yang datang untuk memohon bisa mengikuti Laku Kasampurnan (disebut mohon diperkenankan menjadi Putro).

Berdatangan orang dari berbagai penjuru dunia, melalui berbagai sebab (jalaran), yang akhirnya menjadi Putro.

Selama 25 tahun lebih (13 malem 14 November 1955 s/d 3 Maret 1981), Romo Semono melayani pagi, siang, sore, malam, dini hari, siapapun yang datang .

Semua yang datang, diperlakukan 100% sama. Beliau tidak pernah memandang orang dari perbedaan apapun. Derajat-pangkat, kekayaan kedudukan sosial, suku, bangsa, semua diperlakukan 100% sama.

Kalau beliau sedang memberikan petuah (“wulang-wuruk”), setiap orang mendengar menurut bahasanya sendiri sendiri. Yang orang Jerman mendengar beliau berbicara bahasa Jerman, yang orang Inggeris mendengar beliau berbahasa Inggeris, sedang penulis mendengar beliau berbahasa Jawa.

Romo Semono, setiap harinya, makan dua kali. Tetapi tiap kali makan, hanya satu sendok. Tidurnya, hampir tidak pernah. Hampir tidak pernah mandi, tetapi selain tidak berbau badan beliau, juga tidak ada daki (kotoran) di kulit beliau. Tubuh tetap sehat, gagah, tinggi besar.

Hal hal luar biasa, atau mujijat yang beliau tunjukkan, kalau ditulis semua akan menjadi satu buku tersendiri.

Beberapa contoh saja, misalnya sekitar tahun 1960, beliau naik sepeda motor militer, di atas laut Jawa, menyeberang ke Madura. Kalau mengemudikan mobil, tangan dan kaki beliau dilepas, dan mobil dikomando dengan ucapan. Beberapa kali orang menyaksikan beliau menghidupkan orang, yang telah dinyatakan mati oleh dokter, dan siap dikubur. Beliau sering berada di beberapa tempat pada saat yang sama, dan di tiap tempat beliau makan minum seperti biasa.

Setiap kali, sekalipun dihadapan beliau menghadap ratusan orang, beliau bercerita. Dan setelah selesai bercerita, ternyata semua pertanyaan dan persoalan yang ada di benak yang hadir, sudah terjawab semua.

Mudah-mudahan, suatu saat penulis bisa mengumpulkan pengalaman pengalaman para “kadhang”, yang tidak masuk akal, tetapi benar benar terjadi, dan mujijat mujijat Romo Herucokro Semono yang mereka saksikan, dan bisa penulis bukukan tersendiri.
Romo Semono wafat tanggal 3 Maret 1981, dan dimakamkan di Kalinongko, Loano, Purworejo. Romo Semono tidak dikaruniai anak. Tetapi meninggalkan ratusan ribu, mungkin jutaan Putro, yang tersebar di mana mana. Dan peninggalan beliau yang paling berharga adalah Sarana sarana Gaib, bagi mereka yang ingin Hidup bahagia (Tentrem), agar bisa menjalani dan mencapai “Kasampurnan Jati” pada  saatnya masing masing.

Tinggalan beliau yang terakhir inilah yang sampai sekarang, dipelihara (“dhipepetri”) dan dilestarikan oleh Putro-putronya. Dilestarikan, dalam arti tetap dihayati dan diamalkan dan diberikan kepada siapa saja yang menghendaki, tanpa memandang perbedaan apapun yang ada pada manusianya. Jadi, sifatnya universal.

M A N U S I A
Manusia, seperti kita ketahui, terdiri dari Badan (Raga) dan Hidup (Nyawa, Rokh, Soul).
Raga manusia, dibentuk dari unsur unsur :
  1. Tanah (zat zat kimia organik dan anorganik);
  2. Air (kira kira 70% tubuh manusia terdiri dari air);
  3. Hawa (gas);
  4. Api (energy atau kalori);

Unsur unsur itu, melalui proses bio-kimia, pada Bapak menjadi sperma (sel mani), dan pada Ibu menjadi sel telur. Pertemuan sel mani dan sel telur, membentuk Raga.Kalau penyatuan sel mani dan sel telur itu dimasuki Hidup, barulah akan berkembang menjadi mudigah (embriyo), menjadi bayi, yang akhirnya dilahirkan di dunia.

Manusia itu, Raganya terdiri dari 7 (tujuh) lapis, yaitu :
  1. Rambut;
  2. Kulit;
  3. Daging (bahasa ilmiahnya otot);
  4. Otot (bahasa ilmiahnya saraf);
  5. Tulang;
  6. Sungsum;
  7. Darah (semua cairan tubuh)

7 lapis ini, yang dalam Ketuhanan sering disebut dengan berbagai sebutan kiasan.

Hidup
, berasal dari Tuhan Yang Maha Esa disebut Rokh Suci, karena berasal dari Maha Suci. Setelah menyatu dengan Raga, disebut Hidup (Urip), karena sudah tidak suci lagi.

Raga
, bagaimanapun, sejak pembuahan, sudah tidak suci. Karena kedua orang tua, betapapun kesadarannya akan fungsi meneruskan keturunan, tidak akan berbuat, kalau tidak disertai nafsu. Ini yang menyebabkan Raga, sejak asalnya sudah tidak suci. Ketidak sucian Raga, ikut mengotori Rokh Suci.

Maka, bayi yang baru lahirpun sudah tidak suci.

Bayi yang baru lahir, tahu, kalau lapar menangis, agar diberi makan (susu) oleh ibunya atau orang lain.

Siapa yang mengajari bayi itu?

Bayi itu diajari oleh Guru Sejatinya, yaitu Hidup.
Tak ada seorang ibupun, yang mengatakan pada bayinya, agar kalau lapar, menangis.

Tangis bayi, adalah Bahasa-Hidup. Maka, tidak bisa kita bedakan, tangis bayi Jawa, Sunda, Batak, Amerika, Inggeris, semua sama. Begitu juga Gerak bayi, adalah gerak-hidup, maka semua bayi sama geraknya.

Mulailah otak bayi mendapat masukan. Pintu masukkan, melalui Panca Inderanya. Tergantung masukan yang didapat, maka akan seperti apa nantinya bayi itu jadinya manusia, kanak kanak, sampai dewasa. Masukan bisa dengan sengaja dimasukkan, berupa pendidikan dan pengajaran, bisa juga tanpa disengaja, yaitu apa saja yang ditangkap Panca Inderanya dari lingkungannya.

Masukan itu, termasuk masukan tentang standar norma dan nilai nilai baik-buruk, benar-salah, boleh-dilarang, dan sebagainya. Termasuk norma dan nilai nilai moral dan etika. Bahkan juga soal keyakinan Ketuhanan.

Semua masukan itu, terekam dalam memori/otak manusia itu, yang kemudian jadi dasar manusianya dalam bertindak, dalam mengukur segala sesuatu yang dilakukannya, yang dialaminya, bahkan sebagai standar untuk mengukur perbuatan orang lain.

Karena masukannya berbeda, maka manusia berbeda pula dalam mengukur baik buruk, benar salah dan sebagainya. Hal ini yang selalu menjadikan manusia saling berebut baik, berebut benar. Baik dan benarnya masing masing saling dipegang teguh dan bahkan menyalahkan standar yang dipakai orang lain.

Kalau kita kembali ke bayi, kita akan menyadari, bahwa tangis bayi itu sama, gerak bayi itu sama, karena tangis itu suara Hidup, gerak itu gerak hidup. Jadi sebenarnya manusia itu sama. Berbeda hanya karena masukan yang diterima berbeda.

Hidup itu sama, karena berasal dari Yang Satu, yaitu Tuhan. Yang berbeda raganya, karena berasal dari tanah, air, hawa yang berbeda pula, serta dari Bapak dan Ibu yang berbeda pula.

Jadi, kalau Manusia mau memakai ukuran atau standarnya Hidup, pasti akan sama dalam menilai segala hal.

Raga bersifat materiil, jadi tidak kekal
. Satu saat harus hancur dan kembali menjadi tanah, air, hawa dan api.

Hidup, adalah immateriil, bersifat kekal, berasal dari Yang Maha Kekal
. Asalnya dari Tuhan, jadi seyogyanya kalau berpisah dengan raganya, langsung kembali ke Tuhan. Tidak mengembara (“nglambrang”) jutaan tahun.
Dalam pengertian di sini, otak dengan pekerjaannya (psyche, jiwa) juga tergolong Raga, karena itu masih merupakan kerjanya organ tubuh yang bersifat materiil. Jadi akal pikiran (logika dan ratio), termasuk emosi juga ter-golong raga.

Hidup, kuasanya Gerak, letaknya di Rasa. Maka, kalau makhluk-hidup ditinggalkan Hidupnya berhenti segala geraknya, dan kehilangan Rasa-nya (pada tumbuh-tumbuhan gerak akar dan gerak tumbuhnya yang berhenti). “Urip iku kuwasane obah, lenggahe ono ing Roso Jati”.
Manusia, kemudian juga menerima masukan berupa pendidikan dan pengalaman.

Masukan ini yang mendorong manusia berencana, bercita-cita, dan berusaha meraih apa yang diinginkannya.  Keinginan manusia selalu sesuai dengan masukan yang pernah dia terima.
Orang yang seumur hidupnya belum pernah melihat, belum pernah mendengar tentang mobil, pasti tidak pernah ingin punya mobil. Gerak usahanya juga tidak akan pernah mengarah untuk bisa memiliki mobil.

Semua manusia, perjalanan hidupnya sama. Dilahirkan, dibesarkan, menjalani kehidupan dan penghidupan, sebagian besar kawin dan menghasilkan keturunan lalu mengulang perbuatan orang tuanya terhadap dirinya kepada anak-anaknya, kemudian menjadi tua, dan mati.

Tak seorangpun, betapa tinggi pangkatnya, berapapun besar kekuasaannya, berapapun kekayaannya, bisa mengelak atau menghindar dari jalannya hidup yang demikian itu.

Kalau ada perbedaan, hanyalah dalam “kembangan”-nya saja (variasinya saja). Sama sama makan, untuk mempertahankan hidup, yang satu di hotel berbintang lima, yang lain di kaki lima. Sama sama berpakaian untuk melindungi tubuh, yang satu memakai yang bermerk terkenal, yang lain tanpa merk sama sekali. Sama sama perlu bergerak dari satu tempat ke tempat lain, yang satu naik mobil, yang lain naik sepeda.

Perjalanan itu, menuju ke arah yang sama, yaitu kuburan. (Langsung atau melalui dibakar, dikremasi dulu).

Setiap hari, semua orang, berjalan selangkah demi selangkah mendekati kuburan. Bedanya, ada yang langkahnya cepat, ada yang lambat. Itu perjalanan raganya . Raga, tahunya hanya perjalanan ke kuburan.

Perjalanan “Hidup”, oleh manusia pada umumnya diabaikan.

Hidup yang selalu dipaksa mengikuti segala kehendak raganya, akan terbawa salah-arah. Hidup hanya diperlakukan sebagai budak, yang harus menurut dibawa kemanapun kehendak Raga-nya.

Padahal, tanpa Hidup , Raga (manusia) tidak bisa apa apa.
Semestinya, yang benar, Hiduplah yang menentukan arah dan langkah, sedang raga hanya mengikuti. Jadi, Hidup tidak salah arah, menuju kembali ke asalnya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Salah arahnya “perjalanan”, karena Hidup dipaksa mengikuti kehendak Raganya, menyebabkan Hidup tidak bisa langsung kembali menyatu (manunggal) dengan Tuhan.

Manusia yang dalam menjalani kehidupan dan penghidupan, tidak sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan atas dirinya, “berjalan” zig-zag terlalu lebar. Keinginan dan kehendak kuat untuk mencapai apa yang dianggapnya baik dan benar, membuat usaha yang berlebihan, pada umumnya mengorbankan kebahagian dirinya, kebahagiaan keluarganya, demi tujuan yang menjadi obsesinya. Tidak sedikit, yang karena terlanjur melangkah ke suatu arah, lalu malu (gengsi) kalau harus mundur atau berbelok arah. Apapun ditempuhnya, demi mempertahankan harga diri yang tidak pada tempatnya, dengan segalanya dia korbankan. Masih beruntung kalau tercapai. Kalau sering kegagalan yang dihadapi, maka kekecewaan demi kekecewaan yang didapat, yang akhirnya menimbulkan stress (tekanan batin). Selama berusaha menggapai, ketegangan demi ketegangan dialami (strain).

Sementara orang, agar dianggap modern, mengatakan bahwa variasi ketegangan (strain) dan tekanan (stress) adalah seni hidup. Membuat hidup tidak monoton. Tetapi tidak sedikit yang melupakan bahwa Raga ada batas kemampuannya.
Akhirnya bermacam penyakit timbul sebagai akibatnya. Bahkan kelainan jiwa selalu menghinggapi sebagian besar manusia yang menamakan dirinya modern.

Kalau ingin selalu merasakan kebahagiaan Sejati, ikutilah kehendak Hidup. Karena Hiduplah yang tahu, apa  yang terbaik bagi diri kita masing masing, menurut Maha Hidup, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Bagaimana caranya agar Manusia bisa kenal dan mengenal Hidup yang ada dalam dirinya?

Itulah yang pada umumnya tidak diketahui orang.

Kenal, lalu mengenal Hidup, yang ada dalam diri kita, kemudian bisa berkomunikasi, berhubungan dengan Hidup kita sendiri, lalu bisa menerima petunjuk dari Hidup, dilindungi (“dhiayomi”), oleh Hidup. Itulah yang akan diuraikan dalam bab bab berikut dari buku ini.

Dan itu baru berguna, kalau kita ingin dan bertekad mau menjadi Manusia baru, Manusia yang dilahirkan kembali.

Menjadi Insan Spiritual, yaitu Hidup yang berbaju daging, tulang dan saraf, dan tidak lagi menjadi Insan Materiil, yaitu daging, tulang dan saraf yang dihidupi. “A Spiritual Being”, with flesh, bone and nerves, and not only as “A Living flesh, bone and nerves”.

Kalau itu yang menjadi keinginan, tujuan utama manusianya, maka barulah bab bab berikut dalam buku ini berguna.

MENGENAL “ H I D U P “
Hidup itu Gaib, maka tidak bisa dikenali dengan perabot pada diri kita, yang bersifat ragawi (materiil). Jadi, tidak bisa ditangkap oleh Panca Indera kita, keberadaannya (eksistensinya).

Telah diuraikan di depan, bahwa Hidup itu kuasanya Gerak, letaknya (“lungguhe”) berada di Rasa. Jadi hanya bisa dirasakan.

Yang dimaksud dengan Rasa dalam buku ini, bukan rasa yang merupakan salah satu indera dari panca indera, sense, tetapi Rasa yang ada di dalam diri kita, feeling.

Kita semua merasa, sebagai Orang Hidup. Dan kita pasti mengakui, bahwa kalau ditinggalkan Hidup, kita mati. Dan kalau kita Mati, semua yang ada pada diri kita, kepandaian, pengalaman, kehebatan, derajat-pangkat, kehormatan, kedudukan sosial, harta-benda, bahkan orang orang yang kita cintai, semua tidak berarti lagi. Semua tidak punya nilai lagi bagi kita.

Semasa masih hidup, kita bisa seperti sekarang ini karena dalam diri kita masih ada Hidup (“Isih kalenggahan Urip”).
Penulis bisa menulis buku ini, karena ada Hidup dalam dirinya. Pembaca bisa membaca ini, karena ada Hidup dalam diri pembaca.

Maka, marilah kita akui keberadaan Hidup itu, dan dengan jujur kita akui pula betapa sangat pentingnya peranan Sang Hidup itu pada diri kita.

Marilah kita berhenti memperbudak Hidup, dan kita mulai menjadikan diri kita sebagai Abdhinya Hidup.
Siapa yang harus mengakui keberadaan dan peran Hidup itu ? Kita masing masing. Siapa diri kita itu? Tujuh Lapis Raga kita, dengan segala kerjanya.

Marilah, 7 (tujuh) lapis raga kita, seluruhnya kita ajak untuk mengakui keberadaan dan peranan Hidup atas diri kita. Kita ajak seluruh 7 (tujuh) lapis raga kita untuk tunduk dan menjadi abdhinya Hidup, agar setiap saat, raga kita itu diselamatkan dari hal hal dan perbuatan yang dikemudian hari bisa membuat kita tidak bahagia dan tidak bisa langsung kembali ke asal kita.

Karena hidup itu Gaib, maka untuk mengenalnya memerlukan Sarana yang bersifat Gaib pula.

Seluruhnya ada 5 (lima) sarana gaib, yang didapat Romo Herucokro Semono dari lakunya yang 41 tahun (1914 -1955). Maka, disebut Panca Gaib.

Sarana Gaib I, disebut K U N C I
Ini, gunanya, untuk memberikan bukti kepada diri kita masing masing, bahwa hidup itu memang ada dalam diri kita.
Yang dimaksud bukti, adalah bahwa diri kita masing masing, dengan menggunakan “Kunci” itu, tidak hanya percaya bahwa dalam diri kita ada Hidup, tetapi membuktikan, merasakan sendiri.

Dan kalau “Kunci” itu dihayati sungguh sungguh, diri kita masing masing akan diberi bukti tidak hanya tentang keberadaan Hidup, tetapi juga bagaimana bekerja dan kuasanya Hidup itu, atas kehidupan dan penghidupan kita sehari-hari.

Mohon perhatian
 :
Jangan tergesa-gesa. Pertimbangkan, renungkan dulu masak masak.

Benarkah kita memang ingin hidup Bahagia Sejati (Tentram), agar bisa selanjutya mencapai kasampurnan jati ?

Kalau kita tidak yakin, bahwa segala sesuatu itu Tuhan yang menentukan, dan yang terbaik itu apabila sesuai dengan kehendak Tuhan atas diri kita, maka seyogyanya jangan dulu mengenal Hidup, apalagi menggunakan Kunci Hidup itu.

Kalau kita yakin bahwa Tuhan yang menentukan segalanya, dan yang terbaik bagi diri kita adalah yang sesuai dengan kehendak Tuhan, bolehlah dilanjutkan.
Kalau belum yakin, bukannya tidak boleh, tetapi nantinya pasti akan dan ditinggalkan lagi, kehendak dan jalannya Hidup, yang sebenarnya merupakan kehendak dan jalan yang dikehendaki Tuhan bagi diri kita.

“ KUNCI “
Dalam menjalani Laku selama 41 tahun, Romo Semono menghabiskan waktu 25 tahun hanya untuk melengkapkan “Kunci” saja.

Tiap saat beliau hanya dapat satu huruf. Beberapa saat lagi, baru satu huruf lagi. 25 tahun baru huruf huruf yang beliau dapat itu lengkap, menjadi “Kunci”.
Jadi, “Kunci” itu bukan merupakan buah hasil pikiran Romo Semono.

Maka, kalau satu suku kata saja berubah, sudah bukan “Kunci” Hidup lagi, dan tidak akan ada gunanya.

Oleh karena itu, sampai saat ini, semua yang menghayati Laku Kasampurnan ini, apapun suku, bangsa dan bahasanya, dalam menggunakan Panca Gaib, diantaranya “Kunci”, harus tepat seperti apa adanya.

Tidak perlu, artinya tidak ada gunanya, kata kata dalam “Kunci” diartikan. Hal ini justru hanya akan mempersulit dan menghambat penghayatan kita. Apalagi diterjemahkan.

“Kunci” itu berupa kata kata, hanya disebabkan karena Romo Semono yang menerima, diwajibkan meneruskan kepada sesama manusia, yang menghendaki.

Sebenarnya “Kunci” itu Gaib. Kalau tanpa disertai kata kata kita tidak mampu menerimanya.

Tidak perlu dipikirkan arti dari kata-katanya.

Romo Herucokro Semono sendiri pernah menegaskan :
“ Kunci iku dhudhu unine, dhudu unen-unene, nanging kang mahanani uni” (Kunci itu bukan bunyinya, bukan kata-katanya, tetapi yang menyebabkan adanya bunyi).
Bahkan Romo Herucokro Semono pernah pula menyatakan :
“Upomo Kunci iku kudhu kaparingake marang wedus, mbokmenowo unine embek.” (Seandainya Kunci itu harus diberikan kepada kambing, barangkali bunyinya embek).

Kata-kata “Kunci”
 :
Gusti ingkang Moho Suci,
Kulo nyuwun pangapuro dumateng Gusti ingkang Moho Suci;
Sirolah, Dhatolah, Sipatolah;
Kulo sejatine satriyo / wanito,
nyuwun wicaksono, nyuwun panguwoso,
kangge tumindhake satriyo/wanito sejati;
Kulo nyuwun, kangge anyirnakake tumindhak ingkang luput.

Catatan
 :
Agar tidak terjadi salah faham :
Kata kata Sirolah, Dhatolah, Sipatolah, olah-nya dari kata seperti olah - olah, olah - rogo, dan semacamnya yang artinya “obah” atau gerak.

“Anyirnakake tumindhak ingkang luput”
, maksudnya “lupute dewe”, salah pada diri sendiri.

Ada yang menggunakan :
“hanyirnakake”,

Boleh saja, silahkan dicoba, mana yang dirasakan lebih pas/cocok, bagi dirinya masing masing.

Lain-lainnya, satu suku kata saja, tidak boleh berubah.

Bahkan orang orang asing, lafalnyapun harus benar.

Tidak boleh di sini, artinya, kalau berubah, tidak ada gunanya sama sekali, karena sudah bukan “Kunci” lagi.

Kata “satriyo” digunakan oleh Pria dan kata “wanito” digunakan oleh Wanita.
Menggunakan “KUNCI”
Sering digunakan istilah “salah kaprah”, Membaca Kunci (Moco Kunci). Maksudnya bukan membaca dalam arti harfiah (leterlijk).

A. Dihafalkan dulu, kata-katanya, sampai hafal betul dan betul pula lafalnya.

B. Kalau sudah hafal, lakukan sebagai berikut :
  1. Duduk sesantai mungkin, sampai seluruh otot terasa lemas, lepas, napas sudah teratur, tidak memikirkan bernafas lagi.
  2. Niat untuk menggunakan “Kunci”
  3. Kedua mata terpejam rapat.
  4. Tunggu sampai kedua lengan dan tangan bergerak sendiri, bersikap menyembah (patrap Kunci) - lihat gambar 1.
  5. Ucapkan dalam Rasa, kata kata “Kunci”
Selanjutnya, apapun yang dirasakan, termasuk kalau lengan dan tangan bergerak sendiri, ikuti saja. Tidak perlu takut sama sekali. Tidak akan terjadi apapun, yang tidak baik.

Semua itu merupakan tanda, merupakan bukti, bahwa hidup itu benar benar ada dalam diri kita dan bisa kita rasakan sendiri, kita buktikan sendiri keberadaannya.

Latihlah terus, di saat saat senggang. Lama lama kita akan hafal betul, bagaimana rasanya, kalau kita menggunakan “Kunci” Hidup itu.


Kapan menggunakan “KUNCI”
“Tangi turu gregah Kunci, arep turu Kunci, ono opo-opo Kunci, ora ono opo-opo Kunci” (Bangun tidur segera Kunci, mau tidur Kunci, ada apa apa Kunci, tidak ada apa apa Kunci).

Jadi, yang wajib dilakukan adalah begitu bangun tidur, sebelum berbuat apapun, Kunci, dan saat mau tidur, Kunci.

Bangun tidur Kunci, maksudnya, agar sepanjang hari, kita dilindungi oleh Hidup. Dilindungi oleh Hidup, maksudnya agar kita dihindarkan dari berbuat salah, juga perbuatan salah terhadap diri kita, dihindarkan oleh Hidup.
Contoh :
Dalam rangka Penulis momong kadhang-kadhangnya selama bertahun-tahun, kalau ada kadhang kecopetan, pasti karena lupa Kunci. Belum pernah Penulis alami, ada kadhang yang tidak lupa Kunci, kecopetan di jalan.

Mau tidur Kunci. Maksudnya, agar sekalipun kita tidur, jadi raga sudah tidak ingat apa apa dan tidak bisa apa apa, Hidup selalu menjaga.

Contoh :
Tidak sedikit kadhang yang mengalami, kalau ada sesuatu, sekalipun tertidur pulas, serasa ada yang membangunkan. Dan kemudian ternyata, bangunnya itu memang berguna.
Ada apa apa Kunci, tidak ada apa apa Kunci.

Di manapun kita berada, dalam keadaan apapun, dari pada melamun, atau berfikir yang tidak tidak, lebih baik digunakan untuk “membaca” Kunci dalam rasa. Tentu saja, tidak perlu “patrap Kunci”, yaitu bersikap menyembah seperti dalam Gambar 1.
Sikapnya, disesuaikan situasi dan kondisi kita saat itu.




Pengalaman,
Banyak sekali kadhang yang mengalami, dengan tidak lupa Kunci, Hidup menghindarkan dirinya dari melapetaka, kecelakaan, musibah, atau kejadian yang tidak mengenakkan. Tahunya setelah terjadi.


Mendapatkan “KUNCI”


Telah kita ketahui, kata kata “Kunci”, dari membaca tulisan di depan.

Kalau menggunakan “Kunci” dari menghafal tulisan itu, bisa, tetapi sampai bisa benar benar merasakan dayanya “Kunci” dan membuktikan pula kerjanya Hidup, karena menggunakan “Kunci”, sebaiknya, mintalah “Kunci” itu kepada salah seorang yang sudah lebih dulu menghayati Laku Kasampurnan.

Nantinya, yang memberikan bukan manusianya, tetapi Hidup memberikan kepada Hidup. Jadi dari Gaib kepada Gaib, yang diberikan, “Kunci” itu, juga Gaib.

PENGHAYATANNYA
Sesudah kita menggunakan “Kunci”, sebenarnya 7 (tujuh) lapis raga kita, jadi kita manusianya, menyembah kepada Hidup. Kita berjanji, akan menjadi Abdinya Hidup. Sembah kita kepada Hidup, akan diteruskan kepada Hidup yang menghidupi alam semesta seisinya, Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi, kita memulai suatu penghayatan, yang sekaligus Pengalaman suatu laku, yaitu yang disebut Laku Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwo Mijil, atau secara umum juga dikenal sebagai Penghayatan Kapribaden.

Agar tidak salah faham, laku ini adalah sebagai berikut :

Bisa dijalani (dihayati dan diamalkan) atau “dhilakoni” oleh anak umur 3 tahun. Asal sudah bisa menghafal “Kunci”, sudah bisa menghayati dan mengamalkan laku ini.

Bahkan Sarana Gaib ini, sudah bisa diberikan kepada bayi yang baru lahir. Penghayatan ini, tidak mengenal keharusan “tirakat”, “melekan”, berpuasa “ngebleng”, “kumkum” (berendam di air), meditasi dan sebagainya.

Inti Penghayatannya adalah :
Selalu tidak lupa kepada Hidup lalu selalu minta prtunjuk Hidup sebelum melakukan apapun dan mengikuti segala petunjuk Hidup, sekalipun bertentangan dengan keinginan dan kehendak kita semula.

Karena Guru Sejatinya Hidup kita sendiri, maka Guru Sejati itu yang paling tahu atas diri kita, dan Guru Sejati itu yang tahu apa sebenarnya kehendak Tuhan atas diri kita, dan bagaimana seharusnya melaksanakan semua itu. Guru Sejati itu akan selalu menyesuaikan dengan keadaan kita, kalau kita masih umur sekolah Taman Kanak kanak, maka Guru Sejati itu akan jadi Guru Taman Kanak kanak. Bagi yang sudah dewasa, Guru Sejati akan jadi Dosen atau maha Guru-nya.

Guru Sejati, dalam memberikan tuntunan berupa petunjuk kepada kita, sesuai dengan nasib yang kita alami, kita jalani dan kita hadapi serta kita kerjakan masing masing.

Maka, tidak ada 2 orang yang petunjuknya Hidup sama. Cap jari 2 orang Saudara kembarpun, tidak sama.

Laku kita sama, yaitu sama sama mengikuti Hidup, tetapi Lakon kita berbeda satu sama lain.

Petunjuk Hidup, diberikan sesuai lakonnya masing masing, tetapi intinya sama, yaitu agar tidak menyimpang dari jalan yang dikehendaki Tuhan atas diri kita masing masing.

Penghayatan ini, sedikitpun tidak menyuruh orang meninggalkan hal hal yang bersifat duniawi. Jadi, dalam menjalani kehidupan dan penghidupan, malahan harus wajar, harus biasa saja.

Kesenangan duniawipun, boleh dirasakan, dinikmati. Tetapi kita akan selalu dituntun, kesenangan yang bagaimana yang tepat untuk diri kita. Jadi kita terhindar dari menikmati kesenangan, yang kemudian berakibat kesedihan atau kesengsaraan.

Yang memang ditakdirkan harus kaya, juga boleh, tetapi akan selalu dituntun, agar kekayaan yang didapat sekarang ini, tidak mencelakakan atau menyengsarakan di kemudian hari. Termasuk tidak akan mencelakakan atau menyengsarakan anak cucu.

Memiliki kekuasaan (tentu saja sementara), juga boleh. Akan dituntun, agar jangan salah menggunakan kekuasaan itu. Sehingga hasilnya akan lebih kekal, karena sesuai yang dikehendaki Tuhan.

Yang ingin cukup, juga boleh, artinya selalu ter-cukup-i, segala yang dibutuhkan. Bukan yang diinginkan.

Semua itu, bukan kita yang menentukan, tetapi setelah kita terima, kita tidak akan berjalan salah-arah, dengan apa yang ada pada diri kita.
Kepandaian, kemampuan, kekayaan, kekuasaan, dan lain-lain yang ada pada diri kita, akan selalu digunakan oleh Hidup, dengan perantaraan diri kita, untuk hal hal yang dikehendaki Pemilik dari semua itu, yaitu Tuhan sendiri.

Hidup itu sama, sebenarnya Satu, (Urip iku podo, sejatine Siji).

Maka, kalau Penghayatan ini, dihayati dan diamalkan (“dhilakoni”) oleh seluruh anggota keluarga, kita akan merasakan hasilnya.

Rasa anggota keluarga yang satu selalu berhubungan dengan rasa anggota keluarga yang lain. Sambung rasa setiap saat.

Karena itu, keluarga akan selalu dalam suatu kesatuan yang kokoh-erat, harmonis, penuh diliputi Rasa Bahagia yang sejati.

Manusia, terbatas oleh dimensi ruang dan waktu. Manusia terbatas kemampuan akal-pikirannya.

Hidup tidak mengenal keterbatasan keterbatasan itu. Hidup bisa melakukan, mengatur apa saja, yang akal manusia tidak sampai, dan bahkan menurut akal manusia dikatakan tidak mungkin.

Manusia menyebut mujijat, atas kejadian kejadian yang akalnya tidak sampai. Bagi Hidup, tidak ada mujijat.

Para Penghayat Kapribaden telah banyak membuktikan, sesuai lakonnya masing masing, terjadinya hal hal yang tidak masuk akal, tetapi benar benar terjadi. Dan semuanya pasti baik dan benar, serta membuat tentram (bahagia) si Penghayat.

Pembuktian pembuktian (“paseksen”) itu, diberikan oleh Hidup, agar Manusianya, makin lama makin yakin akan kuasanya Hidup.

Kelanjutannya


Bagaimana?

Apakah setelah membaca uraian di depan itu, masih ingin dan masih berniat untuk menjalani Laku ini, dengan tujuan Hidup tenteram (Bahagia) di dunia dan akhirnya bisa Manunggal dengan Yang Maha Suci ?

Pertimbangkan dulu masak masak.

Di dunia ini, ditawarkan ribuan macam cara dan jalan bagi manusia dalam menjalani kehidupan dan penghidupan.

Termasuk diantaranya, faham yang mengatakan, hidup di dunia cuma sekali. Raih kesenangan dan kenikmatan sebanyak-banyaknya, masa bodoh nantinya.

Laku ini, tidak menakut-nakuti orang, agar orang mau begini atau begitu. Juga tidak menjanjikan sesuatu (“ngiming-iming”) agar orang melakukan ini dan itu. Apapun yang dikerjakan Penghayatnya, adalah atas kehendak dirinya sendiri (dalam arti Hidup-nya), dan akan dirasakan, dibuktikan sendiri sendiri, hasilnya.Yang tekun menjalaninya (artinya selalu patuh pada Hidup), tentu saja banyak bukti didapatnya banyak manfaat dirasakannya. Sebaliknya, yang setengah setengah, juga setengah setengah pula hasil yang didapatnya. Hidup itu adil. Manusia, bagaimanapun bijaksananya, tidak ada yang adil dalam arti sebenarnya.

Yang menyimpangpun (menyalahi kehendak Hidup), juga tidak menunggu kelak, segera merasakan buktinya (akibatnya), Ini diterima sebagai petunjuk pula. Hanya dalam bentuk kebalikan, agar kita tidak mengulanginya.
Kalau selama menggunakan “Kunci”, belum betul betul mendapatkan pengalaman, pembuktian, bahwa Hidup telah menuntun dan melindungi kita, jangan dulu tergesa-gesa, minta diberikan kelanjutannya.

Tekuni dulu, menggunakan “Kunci”, biarkan hidup memberikan bukti kemampuannya mengatur, menuntun dan melindungi, sampai kita benar benar yakin. Kalau semua itu sudah terjadi, itu baru “satu arah”. Artinya dari Hidup ke Kita manusianya. belum bisa dari Kita manusianya ke Hidup, komunikasinya. Jadi, baru komunikasi satu arah. Hidup ke Raga (manusianya). Raga (manusianya) ke Hidup, belum bisa.

Bagaimana?

Apakah sudah mantap mau melanjutkan?

Sudah? Baik. Silahkan.

“A S M O” - Sarana Gaib II

Pada waktu kita lahir, orang tua kita hanya melihat bayi yang lahir itu, yang tampak oleh panca Indera. Jadi, yang diberi nama (asmo), hanya raganya bayi. Padahal, bayi yang lahir terdiri dari Raga dan Hidup di dalamnya. Maka, wajar kalau yang dikembangkan selanjutnya, hanya Raganya.

Kalau ingin bisa berhubungan, berkomunikasi dengan Hidup, maka Hidup itu terlebih dulu, harus diberi “Asmo”.

Dalam hal ini, jangan diterjemahkan dengan Nama, Aran atau jeneng dan semacamnya.

“Asmo”, diberikan, hanya kepada mereka yang sungguh sungguh sudah membuktikan dayanya Hidup lewat “Kunci” dan sudah yakin benar akan kuasanya Hidup. Kemudian bertekad untuk bisa mengikuti segala kehendak (karsanya )-nya Hidup.

Benar ? Sekali lagi. Benarkah anda sudah siap dan bertekad mau menjalani kehidupan dan penghidupan anda, dengan selalu mengikuti, menuruti karsanya Hidup?.

Sekali lagi, anda renungkan dan pertimbangkan masak masak. Sebab, kalau Hidup anda sudah dapat “Asmo”, berarti anda sudah sepenuhnya menjadi Penghayat Laku Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwo Mijil (Penghayat Kapribaden).

Kalau anda mengingkari Hidup, anda akan ditagih oleh Hidup anda sendiri. Sekalipun tak seorangpun tahu.

Dalam Penghayatan ini, tidak ada Guru-Murid. Tidak ada yang Menuntun dan Dituntun.

Kalau Hidup anda sudah dapat “Asmo” , dalam menjalani laku, anda sepenuhnya berdiri sendiri (mandiri, mandireng pribadi). Guru anda adalah Hidup anda sendiri, Penuntun anda adalah Hidup anda sendiri. Yang jadi murid adalah anda sendiri, yang dituntun adalah anda sendiri juga.

Bagaimana ? Siap ? Tidak ragu ragu lagi?

Kalau memang benar benar siap :

Mintalah “Asmo”-nya Hidup anda kepada Kadhang, yang memang sudah diperkenankan memberikan “Asmo”.

Setiap Penghayat, boleh, memberikan “Kunci” Hidup. Tetapi tidak setiap Penghayat diperkenankan memberikan “Asmo”-nya Hidup.

Boleh-tidaknya seseorang memberikan “Asmo”, ditentukan, diijinkan oleh Hidup itu sendiri, karena laku yang bersangkutan. Bukan diijinkan oleh seseorang.

Kalau dipaksakan, seseorang memberikan “Asmo”, padahal belum diperkenankan, maka tidak akan ada gunanya “Asmo” yang diberikan itu. Yang diberi, tidak bisa menggunakannya.
Perlu diperhatikan juga :

Penghayatan ini bersifat pribadi. Jadi, karena tidak ada satupun kewajiban berupa Ritual, maka kalau anda menghayati Penghayatan ini, tak akan ada seorangpun tahu, kalau tidak anda beritahu.

Jadi, kekhawatiran bahwa anda akan diketahui menghayati sesuatu, padahal tidak anda inginkan, tidak perlu ada, lain halnya kalau anda sendiri memberitahukan.

“Asmo”, diberikan oleh Hidup kepada Hidup.

“M I J I L “ - Sarana Gaib III
Setelah Hidup anda diberi “Asmo”, maka oleh Kadhang yang memberi “Asmo” atau Kadhang lain yang ditugasinya, anda akan dituntun caranya “Mijil”.

Mijil di sini, bukan berarti keluar. Mijil di sini, artinya anda (Raganya / Manusianya), bisa Miji-hamijeni, Menyatu, bersambungan, dengan Hidup anda.

Kata-kata “Mijil” :
  1. (Asmo), jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, arso . . . . . . . . . .
    (Ini digunakan hanya dalam hal hal yang bersifat spiritual - Gulung)
  2. (Asmo) , jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, raganiro arso . . . . . . . . . .
    (Ini digunakan, sebelum anda, raganya, manusianya, akan berbuat apa saja - Gelar)

Contoh :
  1. Seorang Penghayat, dalam menjalani laku, suatu saat dihadapkan pada orang yang meminta pertolongan. Sakit misalnya.
    Lalu, dalam rasanya, merasa diperkenankan menolong.

    Mijilnya :
    (Asmo), jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, arso “ngusadhani ragane manungso aran . . . . . . . . . . . . . . keparengo waras”.
    Jadi, yang ngusadhani, bukan manusianya, tetapi Ingsun, yaitu hidupnya.
    Itu cuma contoh. Titik titik sesudah kata arso, boleh diisi dengan bahasa apapun. Bahasa Ibu dari penghayat yang bersangkutan.

    Contoh itu, tidak berarti bahwa Penghayat ini, akan jadi dukun, tugasnya mengobati orang. Sama sekali tidak.
  2. Misalnya mau makan, yang makan adalah raganya, maka Mijilnya:
    (Asmo) jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, raganiro “arso mangan”.
    (Kaserepo kabeh sari-sarine kang dhipangan, ndhadhekake waras lan kuate raganiro”)
    .
Itu semua, kalau anda sudah bisa Mijil.
Mijil untuk pertama kali
Untuk pertama kali, sesudah Hidup anda diberi “Asmo”, Mijilnya adalah sebagai berikut.
(Asmo) jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, “arso mbekso beksaniro pribadi”
(Ini standar, jadi siapapun, untuk pertama kali mijil, mijilnya begini. Termasuk mereka yang orang asing / bukan orang Indonesia).

Sikap (patrap) Mijil
Kalau keadaan memungkinkan, artinya sedang sendirian, atau dalam lingkungan kadhang sendiri, maka Mijil dengan sikap (patrap) tertentu.

Tangan di depan ulu hati, semua jari mengarah ke atas, telapak tangan menghadap ke kiri. Tangan kiri diletakkan di pinggang sebelah kiri, seperti orang bertolak pinggang.

Sikap (patrap) itu, merupakan lambang. Lambang pengakuan, bahwa sekalipun Hidup itu berasal dari Tuhan, tetapi Raga kita berasal dari Bapak dan Ibu.
(Lihat gambar 2)



Waktu Mijil pertama kali, yaitu Mijil Mbekso beksaniro pribadi kedua lengan dan tangan atau anggota badan lain, bergerak, ikuti saja.

Jangan ditahan-tahan. Rasakan betul bagaimana rasanya kalau Mijil.

Rasa yang demikian itulah yang menandakan bahwa anda Mijil (Hidup dan raga, benar benar menyatu, saling berhubungan).

Rasa itu (rasa Mijil), harus benar benar dikenali (“dhititeni”), karena pada saat dan keadaan biasa, anda Mijil tanpa ada gerakan, yang ada hanya Rasa Mijil itu.

Untuk Mijil yang pertama kali, pada umumnya perlu dituntun oleh kadhang. Salah kaprah dikatakan Mijilake (me-Mijil-kan). Padahal sebenarnya, Hidup itu Mijil sendiri dengan Raganya.

Maka, lebih tepat dikatakan, bahwa Kadhang yang lebih dulu menghayati itu, “menuntun caranya Mijil”. Bukan me-Mijil-kan (mijilake).
Selanjutnya, apa gunanya atau kapan digunakannya Mijil itu.
“Arep tumindak opo wae, Mijil”
(Mau berbuat atau melakukan apa saja, Mijil terlebih dahulu).
Mau makan, mau minum, mau buang air, mau mandi, mau bekerja, mau bepergian, mau nonton bioskop, pokoknya mau apa saja, Mijil dulu.

Contoh :
  1. Anda ingin pergi ke rumah seorang teman.
    Anda Mijil dulu.
    (Asmo, jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, raganiro “mau pergi ke rumah Susanto”)

    Lalu anda rasakan betul. Apa yang anda rasakan ? kalau rasanya mengatakan “jangan”, atau ada rasa yang berat, seperti menghambat, maka sebaiknya anda batalkan. Kalau anda tetap pergi, berbagai kemungkinan yang tidak enak akan terjadi. Misalnya teman anda Susanto tidak di rumah, atau anda mengalami kesulitan di jalan, atau kalaupun bertemu, pertemuan itu menghasilkan hal hal yang tidak mengenakkan, dan berbagai kemungkinan lain.

    Kalau sesudah Mijil, lalu anda rasakan, dan rasanya mengatakan “ya”, atau merasa tidak ada hambatan, pergilah. Hasilnya akan mengakibatkan tentramnya semua pihak.
  2. Anda ingin nonton film ke teater.
    Anda Mijil, ternyata setelah dirasakan, terasa seperti dihambat, atau tidak diijinkan. Sebaiknya rencana anda batalkan. Bisa terjadi, akan ada tamu, yang lebih penting dari nonton film. Sedang nonton film itu, bisa kapan saja (lain kali).
  3. Anda mau berurusan dengan seseorang.
    Anda mijil dulu.
    Kalau rasa mengatakan “jangan”, sebaiknya urusan dengan orang itu anda batalkan. Hidup lebih tahu dari anda.
    Sekalipun menurut perhitungan anda urusan dengan orang itu akan menyenangkan, atau akan menguntungkan, tetapi kalau Hidup mengatakan “jangan”, biasanya akibat di kemudian harinya tidak baik

Dan macam macam contoh lain bisa diberikan. Semua itu, akan anda dapatkan sendiri, dari pengalaman dan kenyataan yang anda alami sendiri.

Maka, makin banyak kenyataan yang anda alami, bahwa Hidup itu selalu benar, anda akan makin yakin, bahwa mengikuti petunjuknya Hidup itu selalu baik dan benar.

Akhirnya, apapun akan dikatakan orang, bahkan apapun akan dikatakan oleh logika dan ratio anda sendiri, anda akan lebih percaya terhadap apa yang dikatakan Hidup.

Hidup tidak bisa berbuat jelek, tidak bisa salah.

Yang bisa berbuat jelek dan salah adalah manusianya.

Biasakanlah, mau berbuat apa saja, tidak lupa Mijil dulu. Anda akan membuktikan sendiri kebaikan dan kebenaran hidup. Baik untuk saat itu, maupun untuk kemudian.
Ukuran Baik-Buruk, Benar-Salah
Sebelumnya, kita pakai ukuran atau patokan mati, tentang baik-buruk, benar-salah. Kadang kadang, patokan itu dasarnya adalah kesepakatan manusia tentang apa yang dianggap baik dan buruk dan apa yang dianggap benar dan salah. Sering kita jumpai, bahwa norma dan nilai nilai yang demikian itu, berubah menurut perubahan jaman. “Owah-Gingsir”.

Selain itu, kalau sesuatu perbuatan sudah ditetapkan baik dan benar, maka dianggap berlaku setiap saat, setiap hari, sampai norma atau nilai itu diubah.

Misalnya, menolong orang itu dianggap baik dan benar. Tanpa harus tahu, apakah pertolongan kita itu kemudian disalah gunakan atau tidak. Padahal membantu orang melakukan perbuatan salah, berarti kita ikut salah.

Oleh karena itu, sesudah anda bisa Mijil, ketentuan baik-buruk, benar-salah, tidak lagi berpatokan pada ketentuan mati, melainkan pada ketentuan Hidup. Suatu perbuatan yang hari ini kita lakukan, adalah baik dan benar, belum tentu kalau perbuatan yang sama kita lakukan besok, tetap baik dan benar

Dengan Mijil dulu, sebelum melakukan suatu perbuatan, kita tidak akan salah kalau diijinkan oleh hidup, pasti baik dan benar. Kalau tidak diijinkan oleh hidup, dan tetap kita lakukan, pasti buruk dan salah.

Ada kalanya, kita terpaksa melakukan sesuatu, misalnya karena diperintah atasan, padahal kita tahu, hal itu tidak baik dan tidak benar. Sesudah Mijilpun, kita tahu, itu tidak baik dan tidak benar.

Dalam keadaan demikian, Mijilnya adalah sebagai berikut.
(Asmo), jeneng siro Mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, raganiro arso “menjalankan perintah. Tanggung jawab kembali kepada yang memerintah (nindhakake perintah. Tanggungjawab bali marang sing mrentah)”. Maksudnya, tanggungjawab kepada Tuhan. Sedang tanggungjawab secara lahiriah, kita tetap bertanggungjawab kepada yang memerintah.

Jadi, tak seorangpun tahu, bahwa sebenarnya, tanggungjawab kepada Tuhan sudah kita kembalikan kepada yang memerintah kita.

Menurut pengalaman, kalaupun terjadi sesuatu di kemudian hari, kita akan dilindungi (“dhiayomi”) oleh Hidup. Cara, jalan dan bentuknya, sering tidak masuk akal.

Anda, tiap bangun tidur “Kunci”, mau tidur “Kunci”, ada apa-apa “Kunci”, tidak ada apa-apa “Kunci”. Lalu sebelum berbuat sesuatu “Mijil” lebih dulu, dan sesudah “Mijil”, anda selalu mematuhi karsanya Hidup (Ingsun), dan mengalahkan karsanya Aku.
Berarti, anda sudah menjadi Penghayat Laku Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwo Mijil (Penghayat Kapribaden).

Tetapi, yang anda hayati dan amalkan itu, baru menapak di jalan yang baik dan benar di dunia. Yaitu di jalan yang dikehendaki Tuhan atas diri anda.
H a m b a t a n
Hambatan utama dalam menjalani itu semua adalah diri anda sendiri.

Makin pandai orangnya, makin besar pula hambatannya. karena otaknya makin pandai membantah dengan berbagai argumentasi, dan makin pandai pula membuat alasan untuk membenarkan dirinya (Aku-nya). Biasanya kalau sudah terbentur pada keadaan kehabisan akal, baru mau menyerah kepada kuasanya Hidup.  Orang pandai, lama kehabisan akalnya.

Hambatan lain, apabila anda punya kekuasaan dan banyak uang. Seolah-olah segala kesulitan, persoalan, bisa anda atasi dengan kekuasaan dan atau uang anda.

Baru mau menyerah kepada kuasanya Hidup, kalau persoalan atau kesulitan yang dihadapi, tidak bisa diatasi dengan kekuasaan dan uang yang anda miliki.
Contoh tentang hal ini banyak sekali.
  1. Persoalan yang dihadapi menyangkut soal suami / isteri, atau anak.
    Kekuasaan yang anda miliki akan sangat berdaya terhadap ribuan orang lain, tetapi tidak berdaya terhadap keluarganya sendiri.
  2. Anda atau keluarga anda sakit. Selama dokter/ilmu kedokteran masih bisa membantu untuk menyembuhkan, anda akan menggunakan kekuasaan dan uang anda. Anda lalu menganggap semua bisa diatasi dengan kekuasaan dan uang . Tetapi, kalau dokter dan ilmu kedokteran sudah tidak sanggup, baru anda lari minta pertolongan orang tua, orang pinter. Jadi anda cari yang Gaib.

Padahal, tentram itu bukan kalau bisa mengatasi berbagai persoalan yang silih berganti, tetapi menjalani kehidupan dan penghidupan ini tanpa persoalan (atau sedikit sekali persoalannya). “Tentrem iku yen ora ono opo opo”.

Orang yang tenteram, tidak terlalu terombang-ambing oleh gelombangnya senang-susah, puas-kecewa, tetapi ada atau tidak ada apa apa, selalu diliputi rasa bahagia.

Segalanya dia jalani dengan sungguh sungguh, tetapi apapun hasilnya selalu dia serahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menentukan. Jelas kiranya, bahwa musuh utama dalam menjalani laku ini, adalah A K U.
“Aku”, sejak asalnya (“gawan bayi”) selalu berisikan :
  1. Kesombongan (arrogancy);
  2. Egoisme dan Egocentrisme (mementingkan diri sendiri dan memandang segala sesuatu hanya dari sudut pandangnya sendiri);
  3. Nafsu (lust);
  4. Angkara (kesrakahan);
  5. Kemalasan;
  6. Ketidak acuhan (ignorancy).
Sifat sifat “Aku” itu selalu bertentangan dengan sifat sifat Hidup (Ingsun).

Maka, kalau ingin bisa lancar menjalani laku ini, harus bisa mengalahkan “Aku” dalam diri kita masing masing.
Mengalahkan “AKU”

“AKU” itu begitu kuatnya, karena selain sudah jadi bawaan kita masing masing sejak lahir, dalam pertumbuhan kita, sengaja atau tidak, “AKU”-lah yang selalu kita kembangkan.
Makin bertambah umur kita, makin kuat pula “AKU” kita, kalau selama itu kita tidak berusaha sungguh sungguh mengalahkannya.
Kita kenal, bahwa orang tua makin susah dimengerti, makin susah diajak kompromi, kalau sudah begini maunya ya harus begini, dan seterusnnya. Itu karena “AKU”-nya sudah terlanjur kokoh-kuat berakar.
Maka, tidaklah cukup kalau mau mengalahkan “AKU” hanya dengan tekad. Karena yang punya tekad itu juga “AKU”.
Mengalahkan “AKU” harus dengan Laku. Dan masih harus dibantu dengan cara, dengan sarana Gaib.

Laku membersihkan Raga (Laku pangumbahing Rogo)
Laku membersihkan Raga ini, pada hakekatnya merupakan upaya mengalahkan “AKU”.
Membersihkan Raga bukan dengan mandi 10 kali sehari, tetapi dengan Laku.
Laku itu adalah :
1) Sabar;
2) Narimo;
3) Ngalah;
4) Tresno welas lan asih marang opo lan sopo wae;
5) Ikhlas

Penjelasannya :
Ad.1. Sabar

Sabar, bukan asal tidak marah.
Memaksakan sesuatu sebelum waktunya, juga termasuk tidak sabar.
Contoh Sabar yang baik adalah seorang ibu yang mengandung. Dengan penuh rasa cinta kasih, dia pelihara kandungannya, sampai cukup bulannya. Tak seorang ibupun ingin anaknya lahir sebelum waktunya.
Sabar, harus benar benar terasa sampai sedalam-dalamnya. Berpura-pura sabar, padahal di dalam dirinya marah bergejolak, tidak benar dalam laku ini. Ini yang dinamakan Laku Pura-pura suci. “Laku semuci-suci.”  Misalnya karena usia, atau kedudukan, sehingga dirinya dituakan. Lalu sekalipun sebenarnya marah, tetap tersenyum. Hal ini baik kalau untuk seorang diplomat. Tetapi tidak benar dalam menjalani laku ini.
Orang Sabar, dalam segala hal berpedoman, step by step slow but sure, biar lambat asal selamat, alon-alon waton kelakon (kanti becik lan bener).

Penyakit penyakit seperti Hypertensi (tekanan darah tinggi), neurosis (gangguan keseimbangan emosi), insomnia (tidak bisa tidur) dan semacamnya, akan jauh.
Ad. 2. Narimo
Istilah narimo, sering disalah artikan.
Narimo yang sebenarnya, adalah sifat manusia yang dalam segala hal, berusaha semaksimal mungkin (atau seoptimal mungkin), tetapi sejak awalnya selalu menyadari dan selalu siap bahwa Tuhanlah yang menentukan. (Man purposes, God disposes).
Kekecewaan demi kekecewaan yang bisa berakibat (strain), jarang menghinggapi orang yang “narimo”.

Ad. 3. Ngalah

Hanya orang yang menang yang bisa mengalah.
Mengalah yang sebenarnya, adalah kalau kita sampai merasakan senang atau bahagia.
Misalnya, seorang ayah yang punya anak berumur 4 tahun. Sehabis melihat tinju di televisi, lalu mengajak bertinju ayahnya, di tempat tidur. Sang ayah mengalah, pura pura knock out. Anaknya senang, dan berlagak menjadi juara. Tentu saja, ayahnya yang mengalah itu merasa senang dan bahagia.
Sering kita alami, menghadapi seseorang yang ngotot ingin menang, karena pengetahuan dan pengalamannya yang masih dangkal. Kita mengalah, karena menganggap menghadapi kanak kanak. Kalau kita memang menyayangi orang itu, kita merasa senang melihat dia puas.

Ad. 4. Tresno welas lan asih marang opo lan sopo wae.
(Cinta, kasih dan sayang kepada apa dan siapa saja).

Jadi kita selalu berusaha mencintai dan mengasihi apapun yang ada, dan siapapun yang kita hadapi. Mencintai apa saja, maksudnya mencintai benda, mencintai pekerjaan, mencintai binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Mencintai siapa saja, adalah mencintai sesama manusia, tanpa pilih pilih. Menghadapi siapapun, kita landasi rasa cinta pada diri kita.

Gambaran tentang ini
.

Romo Herucokro Semono, suatu saat ditanya. “Kalau lakunya Putro diumpamakan anak sekolah, apa tandanya kelasnya sudah tinggi?”

Jawaban beliau : “Tandanya Putro lakunya sudah jauh, kalau jangankan manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan sekalipun, semua mencintai kamu, karena kamu senantiasa menanam cinta kasih”.
(“Tandane Putro lakune wis adoh, lamun ojo maneh kang asipat jalmo manungso, kewan tetuwuhan pisan podo tresno marang jeneng siro, amargo siro tansah nandhur katresnan”).
Ad. 5. Ikhlas
Pada umumnya, orang mengatakan ikhlas, kalau sudah terlanjur kehilangan sendiri, memberikan sesuatu.
Dalam laku ini, yang dimaksud Laku Ikhlas, adalah :
Setiap saat, menyadari sepenuhnya, bahwa segala yang ada pada dirinya, seperti kepandaian, pengalaman, kemampuan karena kekuasaan atau kekayaan yang dimiliki, tenaga, pikiran, waktu, bahkan orang-orang yang dicintai, semuanya adalah milik Tuhan Yang Maha Esa.
Maka, setiap saat siap, apabila semua yang ada pada dirinya itu, dikehendaki Pemiliknya, Tuhan yang Maha Esa, mau digunakan untuk sesuatu.
Kehendak Tuhan itu, diketahuinya melalui Hidup yang ada pada dirinya.
Jadi, ikhlas tidak hanya kalau kehilangan atau memberi, tetapi juga ikhlas menerima apapun.

Misalnya, seseorang, oleh Presiden, diangkat menjadi Menteri Kesehatan. Dia menerimanya sebagai kehendak Tuhan, yang disampaikan melalui Presiden, bahwa dirinya dipercaya untuk menyehatkan 180 juta rakyat Indonesia. Jadi, keadaan kesehatan seluruh rakyat, harus dia pertanggungjawabkan kepada Tuhan. Dia harus narimo dan ikhlas menerima beban, tugas dan kewajiban itu. Sama sekali tidak memandang dari segi kekuasaan, kehormatan, penghasilan yang didapatnya. Itu tidak kekal. Tetapi kalau dia bisa menjalankan kewajibannya yang diberikan Tuhan dengan baik, berarti dia melangkah lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Ini akan lebih kekal akibat atau hasilnya.
Kalau seseorang diberi kekayaan melimpah, jauh melebihi kebutuhannya, dia harus Narimo dan Ikhlas menerima, bahwa dirinya diberi tugas yang lebih besar bagi kesejahteraan, kebahagiaan sesamanya.
Kalau seseorang diberi kepandaian lebih dari sesamanya, dia harus Narimo dan Ikhlas mendapatkan tugas memberikan kepandaiannya itu kepada sesamanya. Dan bukan untuk menguasai sesamanya.
Semua kelebihan yang diberikan itu harus digunakan dengan tepat. Hidup yang tahu, untuk apa dan siapa.
Kalau tidak, maka apabila saatnya datang, Hidupnya tidak akan bisa langsung kembali kepada Tuhan, karena masih ada beban yang tertinggal.
Sudah mampukah kita mengalahkan “AKU” ?
Belum. “AKU” begitu perkasa dan begitu dalam mengakar dalam diri kita.
Maka sesudah bisa menjalani 5 (lima) Laku pembersih raga, kita masih memerlukan bantuan Sarana Gaib, untuk mengalahkan “AKU”
Sarana Gaib IV yang anda perlukan.


S I N G K I R – Sarana Gaib IV
“Singkir” ini, gunanya untuk menipiskan “AKU” dengan segala sifatnya, termasuk angkara murka dalam diri kita sendiri.

Kata-kata “Singkir"
 :
Gusti Ingkang Moho Suci,
kulo nyuwun pangapuro dumateng Gusti Ingkang Moho Suci;
Sirolah, Dhatolah, Sipatolah;
Kulo sejatine satriyo / wanito;
Hananiro – hananingsun;
Wujudiro – wujudingsun;
Siro sirno mati dhening satriyo / wanito sejati;
Ketiban idhuku putih, sirno layu dhening (Asmo).

Pada saat-saat senggang, kalau pikiran anda sedang jernih dan tenang, berlatihlah menggunakan “Singkir” ini.
Makin lama, “AKU” di diri anda akan makin menipis.
Ini akan memudahkan anda menjalani laku, karena “AKU”-lah biasanya yang selalu menentang, melawan kehendak Hidup, kalau mau anda lakukan. “AKU” selalu tampil dengan berbagai dalih dan alasan, agar anda batal menjalankan karsanya Hidup.

Sampai dimana Laku anda sekarang :
Bangun tidur “Kunci”, mau tidur “kunci”, ada apa-apa “Kunci, tidak ada apa-apa “Kunci”.
Mau berbuat / melakukan apa saja Mijil dulu. Sesudah Mijil, selalu melaksanakan karsanya ingsun (Hidup). Kalau bertentangan dengan kehendak “AKU”, maka kehendak “Aku” yang dikalahkan.
Selalu Sabar, Narimo, Ngalah, Tresno welas asih dan Ikhlas, dibantu “Singkir” mampu menipiskan “AKU” dalam diri sendiri.
Kalau benar, sekali lagi kalau benar anda sudah demikian itu, maka besar sekali kemungkinannya anda bisa menggunakan Sarana Gaib ke-V, yaitu Paweling.

P A W E L I N G

Kata-kata Paweling :
Siji-siji, loro-loro, telu-telonono,
Siji sekti, loro dadi, telu pandito,
Siji wahayu, loro gratrahino, telu rejeki

Awas : jangan sampai anda keliru dengan “Aji Pameling” yang digunakan orang untuk berkomunikasi jarak jauh semacam telepathy.
Apabila anda memang sudah seperti yang digambarkan di depan, maka Paweling ini bisa anda gunakan dalam arti yang sebenarnya.
Paweling adalah Sarana Gaib untuk menghubungkan Hidup dalam diri anda dengan HIDUP yang meliputi (ngalimpudhi) alam semesta seisinya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Keadaan yang demikian itu, yang sesungguhnya disebut Manunggal.
Juga disebut Manunggalnya Kawulo Gusti, atau manunggalnya Putro dengan ROMO, atau Manunggalnya Hidup dengan HIDUP yang menghidupi.
(Putro adalah Hidup yang ada dalam diri kita, sedang ROMO adalah HIDUP yang meliputi, menggerakkan dan menguasai alam semesta seisinya).
Apabila anda benar bisa menggunakan Paweling, anda akan dalam keadaan Manunggal / Menyatu dengan Alam.
Keterbatasan anda sebagai manusia, lenyap (dimensi ruang dan waktu).
Anda akan mengalami berada di lebih dari satu tempat, dalam waktu bersamaan. Tetapi keberadaan anda itu bukan hanya “bayangan” anda, melainkan benar benar anda. Ditiap tempat, anda misalnya sama sama makan-minum dan berbuat seperti biasa. Disaksikan orang lain. Bahkan, anda bisa berada misalnya di 2 tempat, termasuk mobil andapun jadi dua. Hal ini beberapa kali sudah terjadi atas seseorang Penghayat laku ini, dan saksi-saksinya masih hidup.
Tentu saja, kita tidak akan mungkin terus-menerus dalam keadaan manunggal dengan Tuhan. Kita tidak akan kuat.
Maka, kalau sekali sekali diperkenankan merasakan, kita sudah mendapat anugerah yang tak ternilai. Ini berarti bahwa kita pernah menjalani “jalan kembali” kita kepada Tuhan.
Suatu kenikmatan dan kebahagiaan tertinggi yang bisa dicapai Manusia.
Apabila seseorang dalam keadaan tersebut, maka apa yang diucapkan akan terjadi. Sekalipun tidak masuk akal. Atau akal manusia tidak sampai. Meskipun pada mulanya semua orang tidak percaya dan bahkan membantah, akan terbukti bahwa ucapannya jadi kenyataan. Dan barulah orang terpaksa mengakui, sekalipun akalnya tetap tidak bisa menerima. Lalu, paling paling, disebutnya mujijat, ajaib.
BEBERAPA CATATAN SEBAGAI PENJELASAN

Laku Gelar-Gulung
Gelar artinya yang lahiriah. Gulung artinya yang spiritual, yang gaib.
Penghayat Laku Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwo Mijil, lakunya Gelar-Gulung.

Artinya :
Apapun yang diterima Gulung, yaitu karsanya Hidup yang tertangkap Rasa, segera di Gelarkan, dilaksanakan.
Catatan :
Karsanya Hidup (“dawuhe Urip”), apabila diterima (di Rasa, juga disebut Roso Jati), harus segera dilaksanakan.

Kalau ditunda pelaksanaannya, kita tidak akan mendapat bukti kebenaran “dawuh” itu. Tidak akan terjadi, “dawuh” diberikan, tetapi belum waktunya (belum “titi wanci”). Hidup tidak akan memberikan “dawuh”-nya, kalau belum waktunya dilaksanakan.

Itu yang disebut “nggelarake gulung”. Maka ada rumus bagi Putro (penghayat laku ini), yaitu :

Krenteg, Budhi, Ono
(Timbul rasa, tergerak rasanya, langsung bertindak, dilaksanakan, akan ada buktinya).

Sebaliknya :
Apapun yang dialami, dihadapi, harus selalu di-Gulung. Artinya, apapun yang kita alami, kita hadapi, harus Mijil, untuk ditanyakan kepada hidup, apa sebenarnya makna dari kejadian yang kita alami atau hadapi itu.

Ini yang dinamakan “Nggulung samubarang kang sipat Gelar” (meng-Gulung yaitu mengecek ke dalam, semua yang bersifat lahiriah).

Jadinya, kita tidak gegabah menyimpulkan segala sesuatu yang kita alami, kita hadapi, karena kita tahu, makna dan maksud yang tersembunyi di balik kejadian itu. Dengan bahasa lain, kita tahu, apa yang sebenarnya menjadi kehendak Tuhan, yang diterima oleh Hidup dalam diri kita.

Sering, kita alami kejadian yang tidak mengenakkan diri kita. Setelah di Gulung, kita tahu, bahwa sebenarnya itu merupakan peringatan atau petunjuk dari Tuhan. Dan ini, hanya Hidup yang tahu. Ini sebenarnya yang disebut menemukan hikmah dari segala kejadian. Bukan dengan menghubung-hubungkan melalui pikiran kita (“ngotak-atik gatuk”).

Melatih laku kita

Arena paling baik untuk berlatih menjalani laku ini, adalah dalam keluarga kita masing masing. Kalau dalam keluarga kita sendiri, kita sudah bisa seperti digambarkan didepan, kita melatih diri di arena yang lebih luas. Misalnya di tempat kita bekerja, atau di dalam kita bermasyarakat.

Tetapi, ada arena yang sangat efektif untuk berlatih, yaitu dalam Sarasehan bersama-sama kadhang kadhang kita.
Romo Herucokro Semono :
“Nek beras sak las dhideplok, mesti ajur. Nanging nek beras sak lumpang, jenenge dhisosoh. Ora amargo soko alune utowo lumpange, nanging amargo gosok ginosok antarane las siji karo sijine, dhadhi podo mlecete, dhadhi podo putihe”.
(Kalau sebutir beras ditumbuk pasti hancur, tetapi kalau banyak, ditumbuk, bukan karena penumbuknya atau tempatnya, melainkan butir yang lain, lalu sama sama terkelupas, sama sama menjadi putih)


Jadi saling gosok (gosok-ginosok) antara sesama kadhang, akan sangat mempercepat proses laku kita.
Memang, digosok itu tidak enak, kadang kadang agak sakit, tetapi kalau kita takut tergosok, kita tidak akan pernah jadi putih (bersih).

Kebersamaan sesama penghayat Laku ini
Seorang penghayat dengan penghayat lain disebut “Kadhang”.
“Kadhang” di sini, artinya seseorang yang hubungannya melebihi saudara kandung.
Romo Herucokro Semono :
“Sedhulur sakringkel iku sing podo mung kulit-dhaginge, dhadhi bisa bosok, nek kadhang iku Uripe, dhadhi tansah rante-rinante rasane”.
(Saudara kandung itu yang sama hanya kulit-dagingnya, jadi bisa busuk, kalau kadhang itu Hidupnya, jadi seperti mata rantai, yang rasanya selalu berhubungan).
Kebersamaan para penghayatnya dinamakan “Kekadhangan”.
“Kekadhangan” ini terbentuk secara alamiah, kalau masing masing memang benar benar mengikuti Hidup.
Di depan sudah dikatakan, bahwa Hidup itu sama, sebenarnya Satu.
Maka, kalau masing masing mengikuti Hidup, akan tertarik untuk menyatu. Bukan cuma bersatu.
Menyatunya sesama Penghayat menimbulkan ke-Guyub-Rukunan yang murni. Tidak dibuat-buat; bukan karena ada pamrih, dan lebih lebih tidak karena dipaksa.
Segala perbedaan lahiriah hampir tidak nampak dan tidak terasa. Kalaupun masih ada, hanya terbatas pada sikap yang didasarkan pada etika (sopan-santun, tata-krama). Yang muda menghormati yang tua, yang tua menghargai yang muda.
Yang tua dihormati karena memiliki kematangan jiwa disebabkan pengalaman dan kedalaman lakunya (“temuwo”), sedang yang muda dihargai karena kelebihan kepandaian dan semangatnya untuk menimba sebanyak-banyaknya, serta kemampuannya untuk bergerak aktif, dinamis, dan kreatif.
Dalam kegiatan apapun, tanpa direncana tanpa diatur. Masing-masing mengikuti Rasanya. Gaib yang mengatur. Dan hasilnya, apa yang dilakukan para penghayat itu, saling isi-mengisi, semuanya lengkap, terpenuhi, dan hasilnyapun membuat bahagia semua orang.
Kunci, Asmo, Mijil, Singkir, Paweling itu bukan doa, bukan “rapal”, bukan mantera atau mantram.

KUNCI
Sering dikatakan, “Moco Kunci ping pitu, nanging pitu iku dhudhu etungan”. (Membaca Kunci tujuh kali, tetapi tujuh itu bukan hitungan).
Yang dimaksud :
“Membaca” Kunci, harus sampai benar-benar dirasakan, bahwa 7 (tujuh) lapis Raga, masing-masing, dan seluruhnya, menyembah kepada Hidup.
Jadi, benar-benar sampai terasa. Rasanya kalau 7 lapis Raga, seluruhnya sudah terkena dayanya Kunci, dan menyembah dalam arti pasrah kepada Hidup.
Kalau “membaca” Kunci masih bisa menghitung, berarti masih “membaca” dengan pikirannya, belum dengan Rasa. Rasa tidak pernah bisa dihitung.
Contoh :
Kita bisa menghitung buah sawo, tetapi kita tidak bisa menghitung rasanya sawo.
Banyak orang yang menggunakan Kunci, masih memperlakukannya sebagai “rapal” atau mantera. Asal kata-katanya sudah “dibaca” dalam batin.
Banyak juga yang “membaca” Kunci masih dihitung.
Sekalipun yang demikian itu juga mendapat pembuktian (paseksen), tetapi bukan itu yang sebenarnya.
Kalau “membaca” Kunci dengan Rasa maka tidak dihitung, sampai berhenti sendiri. Jangan dipikir, sampai di mana berhentinya, apalagi sudah berapa kali saat berhenti. Asal sudah berhenti, artinya 7 (tujuh) lapis Raga sudah seluruhnya menyembah dan berserah diri (pasrah) kepada kuasa dan pengayomannya Hidup.
Kalau berlatih “membaca” Kunci begini lama kelamaan kita bisa “membaca Kunci dalam waktu singkat sekali. Bahkan tanpa kata-kata (unen-unen) Kunci lagi.
Terbuktilah apa yang dikatakan Romo Herucokro Semono, bahwa “Kunci” iku dhudhu unine, dhudhu unen-unene, nanging kang mahanani uni” (Kunci itu bukan bunyinya, bukan kata-katanya, tetapi yang menyebabkan bunyi). Jadi Gaib.
Jangan terjerumus, menjadikan “membaca” Kunci sebagai Ritus (cara ritual). Rutinitas ritual, sering menjerumuskan kita pada pendangkalan penghayatan. Hanya kulitnya dan tidak rasanya.
M I J I L (sudah mencakup Asmo)
Masih banyak yang memperlakukan Mijil sebagai mantera.
Misalnya, mau pergi, Mijil dulu. Asal sudah mengucapkan kata-katanya Mijil, langsung pergi.
Padahal, maksudnya Mijil, agar seseorang, sebelum berbuat sesuatu, mendapat Petunjuknya Hidup.
Boleh atau tidak. Kalau bolehpun, akan mendapat petunjuk, apa, berapa, bagaimana, selanjutnya.
Contoh :
Kita mau pergi ke suatu tempat. Kita Mijil, dan tetap “hening”, lalu mendapatkan rasa, diijinkan. Rasa juga memberi petunjuk, agar lewat jalan tertentu. Barulah kita pergi.
Seseorang minta bantuan kita, sedang kita memang mampu dan bisa memberikan bantuan itu. Misalnya berupa uang.
Kita Mijil. Akan kita terima di rasa, boleh atau tidak. Kalau tidak, mungkin saja karena bantuan kita itu akan dia gunakan yang tidak baik dan tidak benar. Kalau diijinkanpun, kita akan mendapat petunjuk berapa besarnya bantuan itu yang seharusnya (menurut Hidup) kita berikan.
Dengan Mijil yang benar seperti itu, tujuannya agar jangan sampai kita berbuat “luput”, berbuat salah menurut ukuran Hidup (ukuran yang paling baik dan paling benar = beciking-becik lan benering bener).

S I N G K I R
Masih banyak yang menerima wulang-wuruk Romo Herucokro Semono, yang diberikan dengan “sanepan” , kiasan, diterima mentah mentah.
Singkir digunakan untuk menghadapi bahaya angin taufan (lesus), bahaya api (kebakaran), gempa bumi (lindu) dan gunung meletus. Ini kiasan, “sanepan”.
Yang dimaksud adalah di dunia kecil, jagad cilik, micro cosmos, yaitu diri kita sendiri.
Angin taufan, adalah suara yang tidak enak didengar. Misalnya fitnah, cacian, celaan, sindiran, bahkan kritikan terhadap diri kita. Akibatnya, api berkobar dalam diri kita. Kita jadi tidak tenang, yang berarti dunia kita gempa bumi. Kalau sudah tidak tahan, mulut kita akan meledak, buruk, yang berarti gunungnya meletus.
Semua itu, disebabkan karena “AKU” dalam diri kita yang bekerja (makarti). Jadi itu kelakuan Sang “AKU”.
Untuk mengurangi sebanyak mungkin terjadinya angin taufan, api, gempa dan meletusnya gunung diri kita itu, diberikanlah Singkir.
PAWELING
Dua macam kesalah fahaman sering terjadi terhadap Paweling ini.
Yang pertama, memperlakukan paweling seperti Aji pameling. Digunakan untuk berhubungan dengan orang lain (kadhang) dari jarak jauh. Kalaupun bisa, sayang sekali. Itu sama dengan “Menembak burung dengan meriam. Burungnya terbang, pohonnya tumbang”.
Yang kedua, memperlakukan Paweling seperti telepon, untuk menelepon ROMO, Gusti Ingkang Moho suci , Tuhan Yang Maha Esa.
Mohon petunjuk atau “dawuh” bagi dirinya. Lalu apa yang didapat, dianggapnya sebagai “dawuh”-nya ROMO, Gusti Ingkang Moho suci.
Ini sama dengan orang yang diberi satelit komunikasi, lalu hanya digunakan untuk pacaran. Jadi kalau benar benar ada “dawuh” dari ROMO, Gusti Ingkang Moho suci, saluran kita tertutup.
Untuk mengatur, melindungi, memelihara Diri Kita (jagad-cilik, micro cosmos), bahkan untuk memberi pada diri kita, Gusti Ingkang Moho Suci memberikan kuasaNya (mandatNya) kepada Hidup yang ada dalam diri kita masing masing.
Jadi tidak perlu dan tidak ada gunanya, membawa-bawa ROMO, Gusti Ingkang Moho suci. Salah salah, petunjuk atau “dawuh”-nya Hidup (Urip), kita kira petunjuk atau “dawuh”-nya ROMO, Gusti Ingkang Moho suci.
Petunjuk atau “dawuh” dari ROMO, Gusti Ingkang Moho suci, selalu menyangkut umum, bukan diri kita pribadi. Dan selalu ada tanda tanda, misalnya juga diterima sama oleh orang lain. Petunjuk atau “dawuh” seperti ini, bisa menyangkut diri kita , bisa diri kita tidak ada sangkut-pautnya sama sekali secara Gelar (lahiriah), Dan pasti terjadi, sekalipun menurut perhitungan nalar ribuan orang tidak mungkin.

Contoh “dawuh” ROMO, Gusti Ingkang Moho suci :
Tahun 1978, seorang penghayat Kapribaden, menyatakan bahwa Komunisme di Rusia dan Eropa Timur akan hilang
Tak seorangpun, saat itu mau percaya. Dan bahkan semua menyatakan tidak mungkin. Ternyata benar benar terjadi.
Lama sebelum terjadi, seorang Penghayat Kapribaden, menyatakan bahwa Amerika dan Sekutunya akan menyerang Irak. Bantahan dengan berbagai analisa dikemukakan (analisa intelejen), yang menyatakan tidak mungkin, karena Amerika akan mempertimbangkan keikut sertaan Uni Sovyet membantu Irak.
Ternyata yang terjadi sesuai “dawuh” dan tidak sesuai dengan berbagai analisa akal pikiran.
Banyak lagi, contoh lain.
Oleh karena itu, seyogyanya jangan sembarangan menggunakan Paweling. Kalau paweling kita gunakan sembarangan, nantinya kita malah tidak bisa menggunakan Paweling yang sebenarnya, yaitu untuk manunggal-kan Urip dengan URIP, Putro dengan ROMO, Gusti Ingkang Moho suci.
Secara garis besar, itulah Laku bagi orang yang mendambakan Hidup Bahagia Sejati (Tentrem) di dunia ini, dan pada akhir hayatnya bisa mencapai Kasampurnan Jati (Moksha).
Tulisan berikutnya, merupakan tambahan, untuk memperjelas.

Sumber : Saking Mriki

 
UP